Jumat, 25 Oktober 2013

Pembelian Besar Senjata di Timur Tengah, untuk Menaklukkan Iran?

http://2.bp.blogspot.com/-_5Xc1D-dS9M/Uml6zwZ5vmI/AAAAAAAAUUE/GabdjbtJL4s/s1600/rudal-harpoon.jpg

Negara-negara di Teluk Persia saat ini sedang memesan senjata dan perlengkapan militer dari Amerika Serikat senilai AS$ 13 miliar. Sekitar setengah dari jumlah itu adalah untuk Arab Saudi, sisanya Kuwait, Irak dan negara-negara Teluk lainnya. Pembelian senjata ini terdiri dari bom pintar dan rudal udara (SLAM ER, Harpoon, JSOW) dalam jumlah yang besar serta miliaran dolar lainnya untuk biaya pemeliharaan dan upgrade peralatan tempur yang sudah ada.

Penjualan besar senjata seperti ini merupakan hal yang tidak biasa di Timur Tengah. Selama tiga tahun terakhir, ekspor senjata tahunan ke wilayah ini rata-rata lebih dari AS$ 60 miliar pertahun dan sebagian besar dikirimkan ke 6 negara kaya minyak anggota GCC (Gulf Cooperation Council). Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Kuwait menjadi pembeli terbesar dan analis menilai alasan utama mereka untuk itu adalah kekhawatiran terhadap Iran.

Meskipun dinilai khawatir akan ancaman Iran, analis menilai pembelian tersebut sangat berlebihan karena bila dibandingkan, untuk menambah atau memelihara alutsistanya, Iran harus melakukannya sendiri atau mengimpor senjata secara ilegal. Ketidakmampuan Iran untuk mengimpor senjata secara resmi ini terkait embargo internasional. Faktanya, pengadaan militer Iran kurang dari 10% dari apa yang dihabiskan mereka (anggota GCC). Namun Iran dinilai memiliki tradisi kuat yaitu bisa berbuat banyak walaupun dengan alutsista yang minim dibandingkan mereka. Analis menilai, terutama di abad terakhir ini, negara-negara arab anggota GCC memiliki catatan tempur yang jauh dari mengesankan. Jadi mereka berusaha melengkapi pasukan dengan peralatan-peralatan tempur terbaik dan berharap untuk yang terbaik pula.

AS hingga saat ini masih menjadi eksportir senjata terkemuka di dunia diikuti oleh Rusia, Perancis, Inggris, China, Jerman dan Italia. Pertumbuhan tajam angka ekspor senjata ini terutama karena dalam dekade terakhir meningkatnya anggaran pertahanan global hampir 50%. Setelah Perang Dingin usai pada tahun 1991, anggaran pertahanan global menurun selama beberapa tahun. Tetapi memasuki tahun 2000 kembali meningkat tajam. Pertumbuhan terbesar terjadi di wilayah Timur Tengah, dimana belanja senjata telah meningkat 62% dalam dekade terakhir. Wilayah dengan pertumbuhan terendah adalah Eropa Barat yaitu 6%. Resesi saat ini mungkin akan menurunkan angka belanja senjata global, namun tampaknya akan segera meningkat kembali karena di beberapa bagian dunia resesi sudah bisa diatasi.

0 komentar: