Nama GANDIWA diambil dari nama senjata milik Arjuna yang didapat dari Dewa Baruna.
Persenjataan : kanon laras tunggal kaliber 30 mm tipe M230 Chain Gun, roket Hydra 70 dan CRV7 kaliber 70 mm.
Wakil ketua Komisi I DPR (F-PDIP), TB Hasanudin merespon pernyataan Juru Bicara TNI AU, Kolonel Bambang Supriyadi terkait kecurigaan terhadap hibah Alutsista dari negara asing. Menurutnya, hal ini perlu mendapatkan respon dari pemerintah maupun DPR. Terlebih, sejak awal, penerimaan dana hibah tersebut telah dikritisi oleh Komisi I DPR.
Menurut TB Hasanudin, Alutsista yang dihibahkan negara lain tersebut, akhirnya justru menyedot anggaran TNI untuk pemeliharaan Alutsista. Padahal, menurutnya, tidak efektif digunakan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara.
Baca juga: Dahlan Iskan: "Jangan Mau di Belakang" dan Demokrat Tak Persoalkan Hibah Hercules dari Australia
“Komisi 1 sudah mengkritisi masalah hibah hibah aneh ini. Pada tahun 2011 sesuai dengan Renstra TNI akan membeli 6 unit F 16 blok 52 yang merupakan unit tercanggih dan terbaru seharga USD 600 juta, tapi kemudian pemerintah CQ Kasau saat itu tiba-tiba memutuskan menerima hibah pesawat-pesawat F 16 (bekas US National Guard) yang sudah teronggok di gurun Arizona sebanyak 24 unit” ujar TB Hasanudin di Gedung DPR RI, senayan Jakarta, Selasa (04/06/2013) .
“TNI kemudian harus membayar lebih dari USD 700 juta untuk meretrofit, memperbaikinya dan membawanya, dan tetap dalam standar pesawat tua, blok 25 dan blok 32. Dari jumlah mungkin kita bertambah, tapi dari efek daya tangkal terhadap sistim pertahanan udara , hampir tak ada artinya karena negara-negara sekitar kita pun sudah mau meng-grounded-kan pesawat-pesawat tua ini,” katanya.
“Tahun 91 an TNI AL pernah juga menerima puluhan kapal ex-Jerman Timur, negara saat itu harus mengeluarkan anggaran yang tak sedikit, dan sekarang kapal-kapal itu menjadi beban pemeliharaan selamanya, tapi sudah tak efisien/efektif lagi untuk dipakai,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, pemerintah dan DPR harus susuk bersama mendefinisikan penerimaan hibah agar mengandung muatan motif politik bangsa lain, yang tidak menguntungkan Indonesia. Terlebih, penerimaan hibah dinilai membuka peluang keuntungan bagi para calo hibah tersebut.
“Ke depan pemerintah dan DPR harus duduk bersama , membuat definisi yang benar, apa itu hubah? Agar hibah benar-benar hibah murni. Tidak ada motif politik negara lain sifatnya mengikat. Apalagi hanya menguntungkan calo,” tandasnya
Sebanyak lebih dari 60 negara pada Seni (3/6) waktu setempat meneken perjanjian perdagangan senjata baru, namun Amerika Serikat menunda gelombang pertama penandatanganan sementara Rusia dan China diperkirakan tetap berada di luar kesepakatan tersebut.
Perjanjian yang ditengahi oleh PBB tersebut merupakan kali pertama yang meliputi segala jenis senjata dalam lebih dari satu dekade terakhir dan ditujukan untuk menciptakan transparansi dan pengamanan terhadap hak asasi manusia (HAM) dalam perdagangan global yang disebut-sebut mencapai nilai US$85 miliar per tahun.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Ban Ki-moon, mengatakan perjanjian tersebut akan "mengakhiri sifat 'bebas-untuk-semua'" perdagangan senjata sehingga menyulitkan para preman, perompak dan teroris untuk mendapatkan senjata.
Perjanjian tersebut meliputi tank, kendaraan tempur lapis baja, artileri kaliber besar, pesawat tempur, helikopter bersenjata, kapal perang, rudal dan peluncurnya, serta perdagangan senjata kecil dalam jumlah besar.
Negara-negara yang meratifikasi perjanjian tersebut harus terlebih dahulu mengevaluasi sebelum membuat kesepakatan perdagangan senjata mengingat adanya resiko terkena embargo internasional, pelanggaran HAM, atau bahkan digunakan oleh kelompok teroris dan kriminal.
PT. Dirgantara Indonesia dengan Aeronautic Defence and Space Company (EADS), perusahaan produsen Airbus, Eurocopter, dan Eurofighter sepakat meningkatkan produksi helikopter dan pesawat, termasuk komponennya dalam jangka panjang.
"EADS dan Dirgantara Indonesia sepakat terus meningkatkan bisnis pembuatan pesawat dan helikopter untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun keperluan negara lainnya," kata Dahlan usai menerima kunjungan Presiden Direktur/CEO EADS, Thomas Enders, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa.
Dahlan menjelaskan bahwa jumlah helikopter di Indonesia masih sangat kurang, terlebih jika dibandingkan dengan Brasil. "Airbus akan meningkatkan kerja sama helikopter. Karena di Brasil ada 2.000 helikopter di Indonesia hanya 200," jelas Dahlan di Kementerian BUMN, Jakarta.
Dahlan yang didampingi Direktur Utama Dirgantara Indonesia, Budi Santoso, mengatakan bahwa pihak EADS ingin meningkatkan kerja samanya dengan Dirgantara Indonesia yang merupakan BUMN pembuat pesawat terbang.
Dahlan menjelaskan bahwa jumlah helikopter di Indonesia dibandingkan dengan sejumlah negara masih relatif sangat rendah. "Pasar helikopter di Indonesia masih sangat menjanjikan karena jumlahnya yang minim," ujarnya. Mantan Dirut PLN ini mencontohkan Brasil saat ini memiliki sekitar 2.000 helikopter, sementara Indonesia masih memiliki 200 helikopter.
Dalam kerja sama produksi helikopter ini, kata dia, Airbus bertindak sebagai penjamin pembiayaan pengembangan helikopter. Untuk itu, Dahlan menyerahkan sepenuhnya kepada Dirgantara Indonesia untuk menindaklanjuti kerja sama tersebut, termasuk kapasitas produksi yang ditargetkan.
Sementara itu, Direktur Utama Dirgantara Budi Santoso menjelaskan bahwa Indonesia ke depannya akan menjadi mitra serius bagi EADS dalam pengembangan industri dan bisnis dirgantara. "EADS menganggap Dirgantara Indonesia sebagai mitra strategis dan penting dalam industri pembuatan pesawat," ujar Budi.
Lembaga Penerbangan dan Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berhasil meraih penganugerahan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Rekor tersebut diraih oleh LSU 02, Pesawat Tanpa Awak (UAV) karya LAPAN yang dinilai "mampu terbang menempuh jarak terjauh" dengan nomor rekor 5997.
LSU 02 telah berhasil memecahkan rekor sepanjang 200 kilometer. "Pesawat itu terbang pergi-pulang dari lapangan udara Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, ke Nusawiru, Pangandaran Jawa Barat," tutur Kahumas LAPAN, Ir. Jasyanto.
Menurut Jasyanto, LSU 02 lepas landas pukul 07.30 WIB. Setelah melakukan manuver terbang di sekitar Lapangan Udara Pameungpeuk, pesawat terbang secara autonomous menuju Nusawiru dengan jarak tempuh 100 kilometer. Dua jam kemudian, pesawat UAV Lapan kembali mendarat dengan mulus di lapangan udara Pameungpek, Garut, Jawa Barat.
"Dengan demikian, total jarak tempuh pulang pergi pesawat ini mencapai 200 kilometer dan merupakan pencatatan awal rekor terjauh yang dilakukan MURI. Selama terbang tersebut, pesawat tersebut melakukan pemotretan dan perekaman gambar," kata Jasyanto melalui keterangan pers.
LSU 02 merupakan pesawat nirawak buatan Lapan. pesawat yang memiliki bentangan sayap sepanjang 2400 milimeter dan panjang badan mencapai 1700 milimeter tersebut mampu terbang secara automatis dengan program sasaran dan jalur terbang yang telah ditentukan. Pesawat bermisi pengamatan ini memiliki muatan maksimum 3 kilogram dengan kecepatan terbang 100 kilometer per jam.
"Pesawat UAV Lapan tersebut sebelumnya sudah dioperasikan dengan misi memotret kawah Gunung Merapi dan memantau banjir di DKI Jakarta pada bulan Januari 2013," kata Jasyanto. Selain itu, teknologi ini juga dapat mendukung program ketahanan pangan dengan cara pemantauan sawah untuk estimasi produksi padi dengan menggunakan beberapa metode dan sudut pandang.
Menurut Jasyanto, peristiwa pencatatan rekor ini merupakan momentum yang sangat berharga bagi Lapan karena sudah berhasil mencatatkan rekor terbang terjauh untuk pesawat tanpa awak dengan berat total kurang dari 15 kg. Disamping itu, pencatatan rekor tersebut merupakan tonggak bersejarah bagi Lapan yang akan akan merayakan ulang tahun ke 50 tahun ini.
Prestasi ini, lanjut Jasyanto, juga merupakan langkah awal bagi pengembangan pesawat tanpa awak di masa mendatang yang tentunya untuk menunjang pembangunan nasional. Deputy Manager MURI, Damian Awan Rahargo, dalam sambutannya menyatakan rasa bangga dan haru atas prestasi yang telah dicapai oleh anak-anak bangsa khususnya di bidang teknologi penerbangan tanpa awak.
MPR dan TNI sepakat untuk merevitalisasi dan mengevaluasi pelaksanaan Pancasila. Sebab, pasca-Reformasi ini Pancasila sebagai ideologi yang baik dan besar bagi sebuah negara, malah dicederai dengan praktik-praktik korupsi, kolusi, nepotisme, ketidakadilan, dan ketidakamanan negara dengan berbagai tindakan anarkisme oleh sekelompok orang, yang tak bertanggung jawab. Elit politik pun tak lagi menjadi teladan bagi rakyat.
"Elite politik sudah tak lagi menjadi teladan bagi rakyat. Ini karena para elite tak menjalankan prinsip-prinsip dan nilai- nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Rakyat malah malah disuguhi dengan tontonan korupsi, asusila, dan 70 persen berita media adalah korupsi," tandas Wakil Ketua MPR A Farhan Hamid yang tampil bersama mantan Panglima TNI Djoko Santoso dan Ketua Tim Kerja Kajian Sistem Ketatanegaraan MPR, Jafar Hafsah dalam dialog tantangan aktualisasi Pancasila di Gedung MPR/DPR Jakarta, Senin kemarin.
Menurut Farhan, seharusnya Pancasila menjadi sumber dari semua hukum yang ada. Di mana Ketuhanan Yang Maha Esa itu menjadi insipirasi bagi semua penyelenggara negara, dan produk serta kerja-kerja politiknya untuk bangsa dan negara.
"Tapi, kalau masih banyak korupsi, dan penyimpangan lain, maka kita perlu mengevaluasi pelaksnaaan Pancasila selama 15 tahun reformasi ini. Alhamdulillah Pancasila dikembalikan ke dalam Kurikulum Pendidikan 2013 oleh Kemendikbud," ujarnya.
Djoko Santoso mengusulkan perlunya konsolidasi nasional sekaligus evaluasi pelaksanaan Pancasila selama ini. "Kalau sosial politik tak memenuhi harapan kesejahteraan dan keadilan rakyat, maka harus melakukan revitalisasi, keteladanan, menjadikan satu-satunya sumber hukum, pendidikan, dan disiplin. Sebab, ketidakadilan itu akan mengusik keamanan dan kesejahteraan rakyat," tutur Djoko.
Khusus bagi TNI lanjut Djoko, TNI pasti akan memenuhi janji sejarah, karena masih berhutang pada pendiri bangsa ini, selama masih ada korupsi dan ketidakadilan. Karena itu kesepakatan-kesepakatan sejarah dan Pancasila itu harus membumi, dan yang akan mengantarkan ke bangsa ke depan.
"Jadi, perlu konsolidasi nasional untuk menginventarisasi, mengevaluasi secara sungguh-sungguh, dan reorientasi untuk masa depan bangsa ini. Dengan komitmen pada konstitusi, saya yakin pada 2045 Indonesia akan mampu menjadi negara yang maju dan mandiri, adil, dan sejahtera," pungkasnya.
Sementara itu Ja'far Hafsah berharap semua pihak komitmen dengan kesepakatan-kesepakatan sejarah kemerdekaan bangsa ini, di mana Pancasila sebagai filosofi bangsa harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, dan bertanggung jawab. Maka harus terus disosialisasikan, dan karenanya MPR RI sedang mengakji terkait sosialisasi 4 Pilar bangsa ini, termasuk dengan media," katanya.
Husein Al-Shahrestani, Wakil Perdana Menteri Irak menyatakan, "Jika Israel melanggar zona udara Irak demi melancarkan serangan ke Iran dan Suriah, maka rezim Zionis akan menerima balasan tegas.
Alalam (3/6) melaporkan, Al-Shahrestani mengatakan, "Kami tidak akan mengijinkan Israel menggunakan zona udara kemi untuk melakukan aksi-aksi anti-Iran dan Suriah."
Dalam wawancaranya dengan AFP, pejabat tinggi Irak ini mengatakan, "Kami telah memperingatkan Israel jika melanggar zona udara kami, maka mereka harus menanggung dampaknya."
Masalah ini, menurutnya, telah dibahas di tingkat Dewan Keamanan Nasional Irak, dan pemerintah Baghdad telah menyampaikan peringatan ini melalui negara-negara yang memiliki hubungan baik dengan Israel, setelah Amerika Serikat memberikan jaminan kepada Tel Aviv bahwa zona udara Irak aman bagi Israel dalam melancarkan serangan ke sejumlah negara.
Ditanya soal sikap Irak jika pelanggaran Israel terjadi, Al-Shahrestani mengatakan, "Jelas bahwa Irak tidak akan mengungkap reaksinya, sehingga Israel tidak punya cara untuk mengelak."
Rusia sudah mulai bekerja untuk memenuhi kontrak ekspor senjatanya dengan Irak setelah menerima uang muka dari Baghdad, CEO Russian Technologies (Rostech) Sergei Chemezov mengatakan. "Kontrak ini dilaksanakan, produksi peralatan yang dipesan sudah dimulai," Chemezov mengatakan kepada RIA Novosti saat upacara pembukaan fasilitas perakitan peluncur granat Rusia di Yordania pada hari Kamis.
Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki menandatangani paket perjanjian pembelian senjata dengan Rusia senilai 4,2 miliar dolar saat kunjungannya ke Moskow pada Oktober 2012 lalu. Berdasarkan kesepakatan itu, Moskow akan menyuplai 30 helikopter serang Mil Mi-28NE yang mampu terbang di semua cuaca atau malam hari, dan 50 sistem pertahanan udara rudal jarak pendek Pantsir-S1.
Kesepakatan tersebut sempat ditangguhkan oleh pemerintah Irak selama beberapa minggu karena ada kecurigaan korupsi. Parlemen Irak selanjutnya mulai menyelidiki beberapa pejabat yang diduga menerima suap. Namun, Menteri Luar Negeri Irak Hoshyar Zebari mengatakan pada Maret 2013 bahwa Irak dan Rusia sudah menyepakati kesepakatan revisi dan pengiriman berdasarkan kontrak akan dimulai pada musim panas.
Penyelidikan korupsi ditutup tak lama setelah itu, namun dibuka kembali pada bulan Mei. Para pejabat Irak mengatakan bahwa masa penyelidikan dan apapun hasil penyelidikan tidak akan mempengaruhi kontrak.
Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) mengumumkan bahwa pesawat tempur F-35 Lightning II akan mulai beroperasi pada bulan Desember 2016. Pengumuman itu juga termasuk laporan bersama yang merinci persyaratan Kemampuan Operasional Awal (Initial Operational Capability/ IOC) dan tanggal beroperasi untuk seluruh varian F-35.
"Angkatan Udara telah menghabiskan waktu enam bulan terakhir untuk meluluskan persyaratan IOC dan menargetkan tanggal beroperasinya. Pengumuman ini merupakan kabar gembira bagi Angkatan Udara," kata Sekretaris Angkatan Udara Michael Donley. "Ini memberikan ketegasan pada anggota Kongres, mitra internasional kita, dan publik Amerika Serikat bahwa program (F-35) ini berada pada jalur yang benar, yang akan meningkatkan kemampuan militer Amerika Serikat dan sekutu kita."
Kongres menunjuk sekretaris Angkatan Udara dan sekretaris Angkatan Laut (2 matra ini yang akan mengoperasikan F-35) untuk memberikan laporan yang merinci tanggal pengoperasian F-35, persyaratan dan kemampuan untuk seluruh varian F-35 pada 1 Juni.
Angkatan Udara akan mencapai persyaratan IOC saat skuadron operasional pertama sudah dilengkapi dengan 12 atau lebih F-35, pilot terlatih, mampu untuk melakukan dukungan udara standar dari dekat, interdiksi, limited suppression dan operasi penghancuran pertahanan udara musuh dalam lingkungan konflik.
"F-35 adalah (alutsista yang) sangat penting dan teknologi bangsa Amerika harus selalu di depan teknologi musuh, sekaligus menyediakan kemampuan multiperan dan misi-misi di masa mendatang," ujar Kepala Staf Angkatan Udara Jenderal Mark A. Welsh III. "Kita sangat gembira bahwa program ini berada di jalan menuju sukses, dan kita berterimakasih dengan mitra internasional yang tetap berkomitmen dalam program ini layaknya kita."
F-35 adalah pesawat tempur generasi ke-5. Teknologinya dianggap belum pernah ada sebelumnya yaitu menggabungkan teknologi siluman dengan kecepatan dan kelincahan pesawat tempur, sensor terintegrasi dan operasi yang berdasarkan jaringan dan avionik yang mutakhir.
Jet tempur yang diklaim sebagai yang tercanggih di dunia ini akan mencapai sejarah baru ketika sudah memenuhi persyaratan IOC. Diantaranya yang sudah dilakukan adalah pelatihan pilot awal di pangkalan udara Eglin, Florida, pada bulan Januari, pengiriman pesawat uji operasional pertama untuk pangkalan udara Edwards, California dan Nellis, Nevada pada bulan Maret, operasional pertama pengisian bahan bakar udara pada bulan April, dan penyelesaian pengujian serangan sudut tinggi pada bulan Mei.
Hadirnya beberapa pejabat tinggi UNIFIL (United Nations Interims in Lebanon) di Markas Indobatt (Indonesia Battalion) Kontingen Garuda (Konga) XXIII-G/UNIFIL, memberikan kesempatan bagi Komandan Satgas Indobatt Letkol Inf Lucky Avianto memamerkan produk Indonesia.
Setelah mempromosikan Seni Budaya Indonesia beberapa waktu lalu, Satgas Indobatt juga mempromosikan Alutsista yang digunakan prajurit TNI Konga XXIII-G/UNIFIL dalam Misi Perdamaian di Lebanon.
Beberapa di antaranya yang sempat dipamerkan adalah kendaraan tempur (Ranpur) jenis Anoa 6x6 dan Pistol G2 yang memenangkan kejuaraan menembak kelas dunia, yang semuanya merupakan hasil produksi dalam negeri Indonesia melalui PT Pindad.
Bertempat di Lapangan Soekarno Markas Indobatt UN Posn 7-1, Adshid al-Qusayr, Lebanon Selatan, Alutsista yang diproduksi PT Pindad digelar dan dipamerkan Satgas Indobatt kepada Komandan Sektor Timur Brigjen Fernando Lopez Del Pozo beserta rombongan, di antaranya Chief of Staff Sektor Timur Kolonel Jesus Jimenez saat melakukan kunjungan, Senin (3/6/2013).
Brigjen Fernandoyang sempat menerima penjelasan tentang Kendaraan Tempur jenis Anoa 6x6, juga berkesempatan mengendarai dan berkeliling Markas Indobatt bersama Letkol Inf Lucky Avianto.
"Indonesia melalui Satgas Indobatt, sudah dikenal kontingen lain tentang kesiapan dan alutsista yang digunakan, seperti Anoa dan senjata yang diproduksi sendiri di Indonesia," kata Brigjen Fernando. Brigjen Fernando memaparkan, Indonesia yang bisa memproduksi ranpur jenis Anoa dan senjata melalui PT Pindad, tidak bisa dipandang sebelah mata.
"Apa yang dimiliki Indobatt sekarang, merupakan standar dalam melaksanakan misi perdamaian," ujarnya.
Sementara, Dansatgas Indobatt Konga XXIII-G/UNIFIL Letkol Inf Lucky Avianto menyatakan, keunggulan Anoa sudah banyak dirasakan dan diakui dunia, yang juga sudah banyak memesan Anoa.
Detasemen Jala Mangkara (disingkat Denjaka) adalah sebuah detasemen pasukan khusus TNI yang menempati Hirarki tertinggi dalam jajaran Korps Marinir dan TNI-AL. Denjaka dibentuk berdasarkan instruksi Panglima TNI kepada Komandan Korps Marinir No Isn.01/P/IV/1984 tanggal 13 November 1984. Denjaka merupakan satuan gabungan antara personel Kopaska dan Taifib Korps Marinir TNI-AL.
Denjaka terdiri dari :
1. Satuan markas Detasemen
2. Satuan tim markas
3. Satuan tim teknik
4. Tiga tim tempur.
Segala aktifitas Denjaka bersifat rahasia dan sangat jarang dipublikasikan. Sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka dituntut memiliki kesiapan operasional, mobilitas, kecepatan, kerahasiaan, dan pendadakan yang tertinggi. medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. Disamping itu juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, bawah laut dan vertikal dari udara.
Mereka dikenal sangat tangguh di medan operasi sebagaimana para “saudara” lainnya, pasukan khusus di matra darat dan udara. Kemampuan Denjaka tak hanya dapat bertempur, tapi juga berperan sebagai satuan intelijen tempur yang handal. Pendidikan hampir 9 bulan dihabiskan untuk menciptakan pasukan Intai Amfibi yang handal, cepat dan rapih dalam menyelesaikan suatu misi khusus.
Tak heran manuver dan gerakan personel Denjaka dalam operasi klandestein membuat musuh kewalahan. Denjaka mampu bertempur di darat, laut, udara dan bawah permukaaan air. Mereka juga memiliki skill yang dimiliki pasukan Kopaska dan Linud (setingkat Parako) untuk menjalankan misinya di TNI. Denjaka juga biasa di libatkan untuk pengamanan Presiden (Paspampres).
Suud Rusli
Mantan anggota Marinir yang sudah 2x berhasil kabur dari sel tahanan POM Lantamal II Jakarta merupakan salah seorang penyandang baret Denjaka. Karena itu, untuk meringkus Suud yang telah membunuh Direktur PT Asaba Boediharto Angsono dan pengawalnya Edy Siyep (prajurit kopassus) 19 Juli 2003 Jajaran pimpinan TNI Angkatan Laut mengerahkan hampir satu peleton tim gabungan.
TNI-AL sadar bahwa Suud adalah salah seorang prajurit Denjaka yang mempunyai kemampuan luar biasa, dan memiliki keahlian dalam menembak jitu. Sebagai anggota Denjaka, dia mempunyai pengalaman dalam berbagai operasi khusus. Untuk melukiskan kemampuan Denjaka, ada yang menganggap kemampuan satu pasukan Denjaka setara dengan sepuluh prajurit TNI biasa.
Para pemburu Suud tak mau gegabah, meski sasarannya sudah diketahui pasti. Kehati hatian tim pemburu yang sebagian juga anggota Denjaka tersebut berhasil menembak mati Suud di Jalan Sumbersari, Desa Sumbersari, Kota Malang, Tahun 2007 lalu. Pada saat penyergapan terjadi, Suud berhasil menembak 3 orang tim pemburu yang tergabung dalam unsur TNI/POLRI, dan beruntung masih bisa tertolong. Namun Suud sendiri tewas dengan luka tembak didada dan paha.
Menghadapi Suud bukanlah hal yang mudah karena dia mantan pasukan khusus yang mempunyai kemampuan lebih dari pada prajurit Marinir biasa. Itulah gambaran bahwa lulusan pendidikan Denjaka disegani sekaligus ditakuti. Mereka adalah pasukan inti di Kesatuan Marinir yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Kemampuan tersebut diraih setelah ditempah melalui pendidikan yang sangat ketat serta melewati ujian yang sangat berat.
Seleksi Pendidikan Denjaka
Video Latihan dan Pengrekrutan Denjaka
Tidak heran, di antara ratusan prajurit yang mengikuti seleksi pendidikan Denjaka, hanya sekitar 50 an orang yang diterima. Mereka akan dilatih keras di kawah candradimuka di Situbondo. Tahun-tahun sebelumnya, sering hanya belasan prajurit yang memenuhi syarat. Mereka yang tak lulus dikembalikan ke kesatuannya semula. Setelah masuk tahap seleksi ke II, Tidak semua yang mengikuti pendidikan tersebut lolos. beberapa di antara mereka dimungkinkan akan dikembalikan ke kesatuannya karena tidak mampu mengikuti pendidikan.
Selain fisik prima, calon Denjaka juga dituntut memiliki IQ tinggi. Sebab, pasukan elite yang sering digunakan untuk penyusupan di daerah operasi itu harus mampu menghadapi berbagai masalah, baik secara individu maupun kelompok.
Selama menjalani pendidikan. Teori di kelas hanya 20 persen. Selebihnya di lapangan, seperti hutan, laut, bahkan udara. Mereka harus mempunyai kemampuan terbaik di darat, laut, dan udara. Mereka dituntut mampu melaksanakan tugas rahasia secara sempurna. Untuk mencapai semua itu, diperlukan pendidikan yang sangat keras dan ketat. Mereka harus mampu menyusup dengan terjun payung, bergerak lincah di laut dengan daya tahan tinggi, serta survive di darat.
Mereka ditempah di tengah ombak ganas di Laut Banyuwangi, yang biasanya menghanyutkan perahu nelayan. Dengan tangan dan kaki diikat, para prajurit tersebut dibuang ke laut ganas itu. Mereka harus mampu bertahan sekaligus menyelamatkan diri.“Latihan mereka cukup berat. Kaki dan tangan diikat pun bisa hidup.
Kenapa sampai demikian? Bila sewaktu-waktu prajurit trimedia (menguasai medan darat, laut, dan udara) itu dibuang ke laut dalam keadaan tangan dan kaki terikat oleh musuh, mereka akan mampu menyelamatkan diri. Setelah melawan ombak besar di laut, mereka juga dituntut bertahan hidup di hutan tanpa perbekalan sedikit pun. Untuk menguji daya tahannya itu, para prajurit terpilih tersebut dilepas di tengah hutan dengan hanya bermodalkan garam. Air minum pun tidak diperkenankan dibawa. Selebihnya, cari sendiri di hutan. Latihan itu dilakukan di Alas Purwo. Di sana, mereka dilepas untuk melatih ketahanan fisik dan kemampuan per orangan.
Di tengah hutan, mereka harus bertahan berhari-hari. Mereka tak jarang hanya makan binatang buas, seperti ular. Bila mampu menangkap monyet, hewan itu pulalah yang disantap. Selama tiga hari tiga malam, mereka tidur di tengah hutan rimba tersebut. Kadang-kadang, juga lebih.
Itu semua belum cukup. Soal pukul-memukul oleh instruktur untuk melatih mental bukanlah hal aneh di kalangan mereka. Mereka benar-benar harus siap mental dan fisik. Begitu kerasnya, tidaklah heran kalau di awal pendidikan itu, ada yang mengundurkan diri.
Untuk latihan udara, mereka bukan lagi dilatih terjun tempur seperti prajurit biasa. Kalau terjun tempur, begitu keluar dari pintu pesawat, payung sudah terbuka. Tapi, Denjaka dilatih terjun bebas. Yang menarik, terjun bebas itu tidak saja dilakukan siang, tapi juga tengah malam. Dengan begitu, bila sewaktu-waktu masuk ke sasaran musuh, mereka tidak harus lewat darat atau laut yang mudah dideteksi lawan. Para Denjaka juga bisa diturunkan dari pesawat dengan ketinggian yang sulit terdeteksi musuh.
Untuk menghindari pendeteksian musuh, mereka harus piawai menyelam. Dengan menggunakan kompas, sambil menghitung derajat daerah sasaran, para Denjaka harus bisa muncul di titik yang tepat. Itu baru tahap latihan. Bila pelantikan atau dikenal dengan pembaretan, mereka harus jalan kaki siang malam. Itu sering dilakukan Banyuwangi-Surabaya. Mereka dilepas di Banyuwangi dan diperintahkan kumpul di Surabaya dalam waktu yang ditentukan. Bila naik kendaraan dan ketahuan instruktur, hukuman berat bakal dirasakan. Baretnya pun bakal tak hinggap di kepala.