Komodo, Made In PT Pindad Indonesia

That was a name that given to PT Pindad latest 4×4 tactical vehicle.

SS2 Made In PT. Pindad Indonesia

SS2-V5 has a long barrel 252mm. compare with SS2-V1-V2= 460mm, SS2-V4=403mm and 460mm, with a shorter barrel.

Made In PT. Pindad Indonesia : APS-3 ANOA

Mesin Berkapasitas 7000 cc dan 320 tenaga kuda.

PT. Dirgantara Indonesia

Pesawat CN-295 Buatan Indonesia dan Spanyol memiliki Panjang: 24,50 meter, Tinggi: 8,66 meter, Rentang sayap: 25,81 meter.

Made In PT. PAL Indonesia

Kapal Perang jenis LPD Memiliki Kecepatan 15,4 knots, Panjang 125 m (410.10 kaki), Lebar 22 m (72.18 kaki) .

Torpedo SUT, Made In : PT. Dirgantara Indonesia

Jarak operasional: 28 km, Kecepatan/ jarak: 35 knots/24,000 yd; 23 knots/ 56,000 yd, Hulu ledak: 225 kg, kedalaman menyelam: 100 m

SS4 Made In PT Pindad Indonesia

Amunisi GPMG FN MAG 58/7,62 x 51 mm, Kaliber 7,62 mm.

Daftar Pasukan Elite Tentara Nasional Indonesia

1.Denjaka, 2.YonTaifib, 3.Kopaska, 4.Kopassus, 5. DetBravo-90.

Kapal Perang Berteknologi Anti Radar Buatan Indonesia

Panjang 63 meter, Lebar 16 meter, Bobot 219 ton, Mesin utama 4x MAN 1800 marine diesel engine nominal 1.800 PK+ 4x waterjet MJP550.

SPR-1, SPR-2, SPR-3 Made In PT Pindad Indonesia

Senjata Sniper Buatan PT. Pindad Indonesia ini diberi nama Senapan Penembak Runtuk, Mampu menembak Baja setebal 3 cm.

KFX/IFX : Pesawat Tempur Buatan Indonesia - Korsel, Berteknologi Anti Radar (Pesawat Siluman)

Status : Proses pengerjaan telah selesai sampai Tahap II, Dan saat ini proyek pengerjaan telah di Tunda Sampai Juni 2014

Helikopter Gandiwa Made In : PT. Dirgantara Indonesia

Nama GANDIWA diambil dari nama senjata milik Arjuna yang didapat dari Dewa Baruna. Persenjataan : kanon laras tunggal kaliber 30 mm tipe M230 Chain Gun, roket Hydra 70 dan CRV7 kaliber 70 mm.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Irak Mulai Menerima Kiriman Senjata Dari Rusia

http://clips.vnmedia.vn/clips/2013/image_vnmedia_vn_2013_9_23_Mi-28N.jpg

Rusia mulai mengirim senjata ke Irak dalam sebuah kontrak bersejarah senilai milyaran dolar yang ditandatangani antara Baghdad dan Moskow tahun lalu. Ali Al-Musawi, penasehat media Perdana Menteri Irak Nouri Al-Maliki, kepada Russia Today, Kamis (17/10) mengatakan bahwa kesepakatan tersebut mencakup pengiriman senjata-senjata dalam memerangi terorisme.

Baghdad dan Moskow menandatangani kesepakatan senilai 4,3 miliar USD pada Oktober 2012. Dengan demikian, Rusia menjadi penyuplai senjata terbesar kepada Irak setelah Amerika Serikat, akan tetapi para pejabat Irak bulan lalu menyatakan bahwa kesepakatan tersebut ditangguhkan menyusul kekhawatiran Maliki tentang "korupsi" dalam timnya.

Akan tetapi, Anatoly Isaykin, direktur jenderal perusahaan senjata Rusia Rosoboronexport pada bulan Februari menyatakan bahwa kesepakatan tersebut tidak ditangguhkan hanya saja belum efektif. Musawi menjelaskan, "Kami memang memiliki kecurigaan terhadap kontrak ini. Akan tetapi pada akhirnya kesepakatan itu ditandatangani. Kami saat ini sedang memulai proses implementasi salah satu dari tahap dari kontrak tersebut."

Menurut sejumlah sumber, Irak membeli 10 unit helikopter Mi-28 dan 42 unit sistem rudal tipe dari darat ke udara Pantsir-S1.

Taiwan Siap Terima Helikopter Tempur AS

http://img.okeinfo.net//content/2013/10/18/413/883576/39WJl2tgiD.jpg

Taiwan dijadwalkan untuk mendapatkan helikopter tempur yang mereka pesan dari Amerika Serikat (AS). Pengiriman helikopter ini merupakan bagian dari gelombang pertama pemenuhan pemesanan helikopter jenis Apache AH-64Es. Sebelumnya, Taiwan sepakat untuk membeli 30 helikopter Apache Longbow yang berteknologi tinggi. Perjanjian pembelian itu diumumkan pada 2008.

Kesepakatan ini sempat memicu kemarahan dari China, yang masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari provinsi mereka. China menolak keras segala bentuk penjualan senjata kepada Taiwan. Enam helikopter Apache AH-64Es ini merupakan varian terbaru dari helikopter tempur buatan AS. Diperkirakan, helikopter ini akan tiba di Pelabuhan Kaohsiung pada 4 November 2013.

Seperti dilansir AFP, Jumat (18/10/2013), keberadaan helikopter Apache membuat militer Taiwan sebagai militer pertama di luar AS yang menggunakan varian AH-64Es. Pengiriman Apache ini pada awalnya dijadwalkan berlangsung pada Oktober. Pada akhirnya pengiriman tertunda karena Pemerintah AS sempat mengalami krisis keuangan yang menyebabkan terhentinya operasi pemerintahan.

Sniper Pemerintah Suriah 'Lomba' Tembak Janin di Perut Ibunya Demi Rokok

http://l3.yimg.com/bt/api/res/1.2/f4PHq.mMVeLM56P_OjYKXg--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD0yNTQ7cT03NTt3PTQ0Mw--/http://media.zenfs.com/id-ID/News/tempo/229653.jpg

Kebiadaban baru dilaporkan terjadi di Suriah. Menurut seorang dokter Inggris yang melakukan misi kemanusiaan di sana, janin di rahim wanita Suriah menjadi sasaran penembakan dengan hadiah sebungkus rokok. David Nott, nama dokter itu, mengaku menyaksikan bukti pejuang menggunakan warga sipil sebagai target latihan menembak dan pada beberapa kesempatan menembak wanita hamil tepat di perutnya untuk membunuh janin yang dikandungnya.

Sebuah foto dengan sinar X yang menunjukkan janin dengan peluru bersarang di kepala disodorkannya sebagai bukti. Ia menyatakan, banyak warga sipil Suriah yang kini terperangkap antara pasukan pemerintah dan pemberontak. Dia menggambarkannya sebagai "neraka di dalam neraka". Ada area jalan tertentu yang menjadi ajang "lomba" para penembak jitu itu. Jika wanita dan anak-anak melintas, mereka akan menjadi target empuk.

Ia melihat indikasi penembakan itu dilakukan secara terencana untuk tujuan latihan. "Suatu hari akan datang banyak pasien dengan luka tembak di paha kiri, di hari yang lain, semua pasien datang dengan luka tembak di dada kirinya," katanya.

Nott mengatakan selama 20 tahun menjadi sukarelawan di zona perang, baru kali ini ia menyaksikan wanita hamil menjadi sasaran. Dia menyatakan sudah menangani dua pasien wanita hamil dengan peluru bersarang di kepala bayi mereka. Perang sipil Suriah telah menewaskan lebih dari 100.000 orang. Perang ini kini mengarah pada perang saudara antara kubu Suni yang mendukung tentara pemberontah dan kubu Syiah yang mendukung pemerintah.

Lawan Tanding Terberat Sukhoi Su-27/30 TNI AU

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj60FK9Fwe7VtHzF34b6q4wtVbL5Dt1oKpjFgf_r9PMhnOK5nkoKmowFrIWT7PkURYkQhi7_GGUEhk4ZupbZiEgJxaxJ2DjsPJBIp4u0lCMmAVXrni6_Z6o2utVU9G9ZJ5P7WjeQXihnpj4/s1600/Australian+No.77+Squadron+FA-18+Hornet+welcome+Indonesian+Air+Force+(TNI-AU)+Sukhoi+Su-27+&+Su-30+Flanker+into+Darwin+to+participate+in+Exercse+Pitch+Black+2012+(4).jpg

Sepanjang ada kesamaan kepentingan, hubungan antar negara bertetangga dipastikan bakal harmonis. Tapi lain halnya bila antar dua negara punya kepentingan yang jauh berbeda, bahkan satu sama lain saling berseberangan atas suatu isu. Bisa jadi yang muncul adalah konflik, seperti yang kita lihat di sengketa kepulauan laut Cina Selatan.

Dalam konteks kekinian, Indonesia pun punya sisi rawan pada hubungan bertetangga, khususnya dengan Australia, Malaysia, dan Singapura. Berlandaskan kepentingan nasional, hubungan Indonesia dengan ketiga negara tersebut kerap melalui phase pasang surut. Nah, bicara lebih detail pada potensi konflik, banyak pengamat memberikan analisis, bawah sampai 10 tahun kedepan Indonesia tidak akan menghadapi perang terbuka. Mungkin bisa kita amini hasil analisa tersebut, tapi pada kenyataan potensi konflik berskala kecil mudah meletup seketika.

Dengan Malaysia, masih terbuka terjadinya ‘keributan’ di seputaran blok Ambalat, belum lagi pada masalah patok di perbatasan Kalimantan, dan isu penyiksaan tenaga kerja. Dengan Singapura, masalah sentimen bisa mencuat seputar reklamasi, batas wilayah, dan perijinan terbang. Dengan Australia, isu manusia perahu bisa menjadi bom waktu, belum lagi ada ‘kenangan’ pahit saat lepasnya Timor Timur dari NKRI. Bicara tentang konflik ringan yang sifatnya lokal, skenario yang paling mudah jadi kenyataan adalah gesekan di laut dan terjadinya duel di udara. Gesekan di laut sudah ada buktinya, yakni pada kasus saling serempet pada tahun 2005, antara kapal perang TNI AL dan TLDM (AL Malaysia) di blok Ambalat. Duel di udara juga nyaris terjadi antara Hawk 200 TNI AU dengan F/A-18 Hornet RAAF (Australia) pada 16 September 1999.

Mengingat setiap konflik lokal bisa berubah menjadi konflik militer terbuka, di skenario kan yang nantinya mengambil peran strategis adalah alutsista papan atas yang memegang peranan penting. Bila di laut yang akan beraksi adalah frigat, korvet, dan kapal selam. Maka pada matra udara yang jadi andalan adalah jet tempur lapis pertama. Keberadaan jet tempur lapis pertama inilah yang diyakini akan membuka serangan awal dan menentukan jalannya pertempuran. Jagoan TNI AU saat ini adalah Sukhoi Su-27SKM dan Su-30MK2. Sementara jagoan AU Malaysia adalah Sukhoi Su-30MKM, sementara jet tempur andalan Negeri Kangguru adalah F/A-18 Super Hornet, dan jawara jet tempur Singapura adalah F-15SG Eagle.

Polling Indomiliter
Harus diakui, kerjasama militer antar matra di ketiga negara lumayan erat saat ini, terutama dengan Australia dan Singapura. Tapi kembali lagi, bukan tak mungkin antar jawara angkasa keempat negara bertetangga ini akan bertemu, bukan dalam sesi latihan tempur, melainkan dalam aksi nyata dog fight di udara. Tanpa berharap terjadinya perang, Indomiliter.com sejak 3 sampai 13 Oktober 2013 telah menggelar polling dengan tema “Siapakah Lawan Tanding Terberat Su-27/30 Flanker TNI AU?” Lewat pola one IP one vote, terjaring 342 responden.

Dari hasil polling, menjadi lawan terberat Sukhoi TNI AU ternyata adalah F-15SG RSAF (Republic of Singapore Air Force). F-15SG dipilih oleh 142 responden (41,52%). Dipilihnya F-15SG sebagai lawan tanding terberat Sukhoi Su-27/30 tak lain karena keduanya punya misi utama pada air superiority, sehingga dalam benak banyak orang kedua jet tempur merupakan lawan tanding yang benar-benar sepadan. Jet tempur buatan Boeing ini sudah battle proven, Singapura memiliki 24 unit F-15SG yang ditempatkan di lanud Paya Lebar.

Kemudian, peringkat kedua lawan tanding Sukhoi TNI AU adalah F/A-18 Super Hornet RAAF (Royal Australian Air Force). Jet tempur ini dipilih oleh 107 responden (31,29%). Kedua jet tempur ini pun sudah pernah berlatih olah tempur bersama dalam Pitch Black 2012 di lanud Tindal dan Darwin. Jet tempur multirole yang ideal dilepaskan dari kapal induk ini sudah tergolong battle proven, dan RAAF total memiliki 24 unit F/A-18 Super Hornet.

Lawan tanding ketiga Sukhoi TNI AU tak lain tipe jet tempur yang sama, meski hanya beda versi. Yakni Sukhoi Su-30MKM TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia) yang dipilih 93 responden (27,19%). Malaysia total memiliki 18 unit Su-30MKM, antara Sukhoi Indonesia dan Malaysia punya kecanggihan yang setara, meski dalam hal kelengkapan senjata, Malaysia sudah jauh lebih dulu dipersenjatai, sementara Sukhoi TNI AU masih terbilang baru dalam kelengkapan senjata, termasuk hadirnya rudal Vympel R-27 dan Kh-31P. Perlu juga dicermati, Malaysia terbilang padat jet tempur di lapisan pertama, Negeri Jiran ini juga punya F/A-18 Hornet dan MiG-29 Fulcrum.

Sebagai catatan, keempat jawara jet tempur milik Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Australia sama-sama menggunakan dua mesin jet, punya kemampuan isi bahan bakar di udara, dan predikat duel di udara yang relatif setara, begitu pula dengan dukungan persenjataan yang menyertai. Australia dan Singapura bahkan punya rencana strategis yang sama dalam pengadaan jet tempur. Kedua negara sekutu AS ini telah mencanangkan untuk mengadopsi jet tempur F-35 Lightning II buatan Lockheed Martin. Bahkan, Australia sudah memesan 100 unit stealth fighter F-35 yang rencananya mulai akan diterima pada tahun 2020.

Jumat, 18 Oktober 2013

Melirik Singapura dan Rencana Akuisisi F-35B

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/fb/CF-1_flight_test.jpg/763px-CF-1_flight_test.jpg

Dalam sebuah wawancara panjang dengan Defense Writer Group pada Juli lalu, Komandan Angkatan Udara Amerika Serikat wilayah Pasifik, Jenderal Herbert J. "Hawk" Carlisle ditanya mengenai minat Singapura untuk pesawat tempur F-35. Carlisle mengatakan:

"Saya sudah berbicara dengan CDF mereka (Chief of Defence Force Singapura, Letnan jenderal Ng Chee Meng). Saya berada di Singapura. Singapura memutuskan untuk membeli model B (F-35B) varian STOVL. Tapi saya tidak tahu mereka akan menganggarkannya darimana. Saya tahu keputusan itu telah dibuat dan itulah sebabnya mereka menjadi bagian dari program (program F-35) ini, tapi saya tidak tahu darimana mereka akan menganggarkannya."

Bagian dari wawancara itu sebagian besar luput dari perhatian media yang meliput acara tersebut sebagai cakupan pemusatan perhatian pada rencana Angkatan Udara AS untuk poros Pasifik. Jika Jenderal Carlisle benar, berarti Singapura akan menjadi pengguna keempat F-35B, setelah Korps Marinir Amerika Serikat, Inggris, dan Italia. F-35B adalah sebutan untuk F-35 yang memiliki kemampuan short take-off and vertical-landing (STOVL) atau lepas landas pendek dan mendarat secara vertikal.

Sebuah negara kecil padat penduduk yang terletak di ujung selatan Semenanjung Malaya, Singapura berada di choke point bersama dengan Malaysia dan Indonesia di sepanjang jalur laut penting dunia. Pelabuhan lautnya menjadi sumber booming-nya ekonomi Singapura, sedangkan Bandara Internasional Changi sudah terkenal fungsinya di dunia sebagai penghubung penting bagi wisatawan Asia ke seluruh dunia dan sebaliknya. Dengan luas total hanya 710.2 km persegi, namun Singapura mampu membangun militer yang kuat, bahkan dianggap sebagai salah satu yang terbaik di Asia.

Singapura bergabung dengan program JSF (F-35) pada bulan Februari 2003 sebagai Security Cooperative Participant (SCP). Sebagai SCP, Singapura diyakini mampu mengeksplor F-35 untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya sekaligus membentuk kantor programnya sendiri. Meski demikian, awal ketertarikan Singapura pada varian STOVL F-35 baru muncul pada 2011, ketika Rolls-Royce mengungkapkan bahwa Singapura meluncurkan studi yang bertujuan untuk mempertimbangkan akuisisi F-35B.

Amerika Serikat dan Australia memiliki hubungan pertahanan yang erat dengan Singapura, tidak mengherankan jika Singapura akan mengikuti jejak mereka untuk mengoperasikan F-35 bersama dengan Jepang (dan mungkin juga Korea Selatan). Pesawat ini dilengkapi network-enabled capability dan integrated sensor suite, yang pastinya akan memudahkan operasi gabungan dengan sekutu-sekutu pengguna F-35 di wilayah manapun.

Terkenal tertutup dalam masalah militer, pejabat pertahanan di Singapura telah membantah rumor tentang minat mereka pada F-35B. Namun, Menteri Pertahan Ng Eng Hen sebelumnya beberapa kali mencatatkan bahwa Singapura tengah mengevaluasi F-35 untuk dijadikan pesawat tempur berikutnya bagi Angkatan Udara (RSAF), namun belum ada keputusan yang dibuat.

Tentu saja F-35B bagi Singapura akan menjadi pilihan yang sangat patut dipertimbangkan. Pesawat yang mudah digunakan dan mampu lepas landas dari landasan pacu 168 m akan memastikan RSAF mampu melakukan operasi udara dengan cepat dan cepat dalam merespon serangan pertama musuh. Kemampuan seperti ini tentu akan membuat sulit perhitungan musuh untuk melakukan serangan pertama pada Singapura.

Dengan munculnya pengumuman baru oleh Perdana Menteri Lee Hsien Loong yang menyatakan bahwa dalam waktu dekat Singapura akan menutup tiga basis tempur taktis untuk digunakan sebagai perumahan dan industri (akibat minimnya tanah), berarti hanya tinggal Pangkalan Udara Tengah di barat dan Pangkalan Udara Changi di timur, sebelah bandara internasional Singapura di timur Singapura, sebagai rumah bagi pesawat-pesawat tempur RSAF. Kedua pangkalan udara itu rencanaya akan diperluas dan di upgrade agar bisa menampung relokasi pesawat-pesawat RSAF dan unit yang saat ini berbasis di Paya Lebar.

Dengan berkurangnya jumlah landasan pacu di Singapura, memiliki aset tempur udara seperti F-35B STOVL tentu akan menjadi solusi yang bijak bagi pemikiran perencana pertahanan Singapura. Ini akan menjadi salah satu faktor yang pastinya akan dipertimbangkan. Dan upgrade kedua basis tempur diatas kemungkinan akan mencakup pembangunan lapisan termal "lilypads" yang akan memungkinkan F-35B mendarat secara vertikal tanpa gas buang panas dari knalpotnya merusak aspal (landasan). Baca juga : Ketika F-35 Terlalu Panas untuk Diterbangkan
Meskipun telah menyebut F-35 sebagai pesawat yang cocok untuk modernisasi armada tempur udara RSAF, namun Ng juga mengatakan bahwa Singapura tidak terburu-buru mengambil keputusan. Dengan armada yang tempur udara yang relatif muda dan canggih seperti F-15 dan F-16 saat ini, Departemen Pertahanan Singapura akan lebih cenderung melihat beberapa aspek kematangan dari program JSF sebelum melakukan sesuatu yang disebut sebagai pembelian termahal dalam sejarah pertahanan Singapura.

RSAF saat ini mengoperasikan 60 Lockheed MArtin F-16C/D Fightng Falcon bersama dengan 24 Beoing F-15SG Eagles. Telah dilaporkan juga di beberapa media dan diperkuat foto-foto dari latihan tempur Maple Flag baru-baru ini di Kanada bahwa Singapura sudah menerima tambahan F-15SG yang belum/tidak diumumkan. Kemungkinan pesawat-pesawat ini akan menggantikan pesawat pencegat Northrop F - 5S/T Tiger II yang satu atau dua tahun kedepan akan pensiun.

Beberapa waktu lalu Singapura juga mengumumkan bahwa F-16 RSAF akan menjalani upgrade Mid-Life, yang setidaknya akan menjaga umurnya hingga 2020. Jangka waktu yang cukup bagi RSAF untuk memperkenalkan F-35 dalam layanannya. Dan lagi untuk urusan alat pertahanan, Singapura biasanya tidak mentok pada pembelian pertama, akan ada batch-batch pembelian tambahan dan analis meyakini jika memang Singapura jadi membeli F-35 maka kemungkinan pembelian itu bukan menjadi pembelian yang terakhir. Dan jika perencana pertahanan Singapura menilai F-35B memiliki keterbatasan payload (muatan), manuver dan lainnya karena untuk mempertahankan kemampuan STOVL-nya, maka tidak salah berspekulasi bahwa Singapura akhirnya akan memilih F-35A CTOL (lepas dan landas dan mendarat biasa/konvensional).

Super Tucano Akan Disiagakan Di Papua

http://indodefense.files.wordpress.com/2012/09/alejandrohdezleon.jpg

Panglima Komando Operasi TNI Angkatan Udara II (Pangkoopsau II) Marsekal Muda Agus Supriatna, memberikan perhatian khusus kepada Papua yang berada di perbatasan negara. Perhatian tersebut, dengan mendatangkan pesawat tempur taktis ke Papua untuk memperketat penjagaan terhadap pesawat asing yang masuk ke wilayah Papua.

"Kita bersyukur karena pemerintah telah mempercayakan kepada kami, khususnya TNI AU hinga akhirnya bisa membeli pesawat tempur taktis seperti Tucano dari Brazil, yang akan di standby-kan di wilayah Papua," ungkapnya kepada wartawan Kamis (17/10) kemarin.

Menurutnya, pesawat tempur yang akan diletakkan di Papua merupakan rencana strategis, mengingat Papua merupakan daerah perbatasan. Dengan adanya pesawat tempur taktis itu, Agus berharap akan bisa memantau keadaan dan situasi di Papua secara keseluruhan. "Itu sangat strategis kalau kita standby-kan di sini nantinya. Namun karena pesawatnya belum lengkap 16 unit, maka memang belum kita gerakkan, namun suatu saat nanti akan kita standby-kan di sini," sambungnya.

Disinggung mengenai pesawat asing yang beberapa kali "mampir" ke wilayah Papua tanpa ijin, Agus membenarkan adanya hal itu. Dan dalam rangka itulah pihaknya akan mendatangkan pesawat tempur taktis tersebut ke Papua. Namun menurut Agus, menyikapi adanya pesawat asing yang masuk ke wilayah RI, pihak TNI AU, khususnya Pangkalan Udara yang ada di Papua, selalu menindak tegas terhadap pesawat asing yang masuk ke wilayah Papua.

"Makanya kita simpan radar di Biak dan di Merauke juga. Radar itu nantinya untuk pengawasan itu, jadi setiap ada pesawat-pesawat yang unschedule (di luar jadwal izin "red) maka kita pasti amankan. Kalau mereka tidak ada ijin, maka kita tidak akan keluarkan pesawat tersebut hingga mereka mengurus perizinannya,"jelasnya.

Bukan hanya itu saja, Marsekal TNI Agus juga mengklaim beberapa kali telah menangkap pesawat yang datang dari Australia maupun PNG ketika berada di Merauke dan beberapa tempat yang ada di Papua. Jika ditemukan benda-benda yang tidak sesuai dengan izin, maka akan disita.

"Jadi kalau ada kamera, video, dan lain sebagainya akan kita ambil. Jangan-jangan mereka ingin mendokumentasikan sesuatu. Pokoknya harus ada izin dahulu. Kalau tidak ada ijin, kita akan rampas, dan mereka harus bertanggungjawab," tegasnya.

HQ-9 Buatan China Masuk Dalam Daftar Belanja TNI 2014

http://www.ausairpower.net/PLA/HQ-9-TEL-Stowed-1S.jpg

Untuk melindungi dari serangan udara, TNI AU akan membeli rudal dari negeri China. Pembelian rudal tersebut pun sudah tercantum dalam Rensra 2014-2019 dan 2019-2024.

"Untuk rudal sudah ada dalam rencana strategis, tentunya itu akan di realisasikan yang jelas penambahan alutsista itu sudah ada di rensra," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI Hadi Tjahjanto di Jakarta, rudal yang dibeli adalah rudal dari darat ke udara.

Rudal HQ-9 memiliki jangkauan maksimum sekitar 100 km dan berat 1,3 ton, dilengkapi dengan "active homing head". Saat ini, China juga mengekspor rudal HQ-9 pertahanan udara dengan nama FD 2000.

Komando Armada Timur TNI AL Awasi Penyelundupan Imigran

http://img.okeinfo.net/dynamic/content/2011/12/19/340/544553/y3XZzy5dbO.jpg

Komando Armada Timur (Koarmatim) TNI Angkatan Laut (AL) akan memfokuskan pengamanan laut di perairan Selat Makassar, Sulawesi Selatan, terkait maraknya penyelundupan manusia atau masuknya imigran gelap ke Indonesia.

Panglima Komando Armada Timur (Pangarmatim), Laksamana Muda TNI Agung Pramono, usai menghadiri serah terima jabatan Komandan Lantamal (Danlatamal) VI Makassar, Jumat (18/10/2013), mengatakan, pada dasarnya sektor pengamanan laut berlaku bagi seluruh pengguna jalur, namun khusus Selat Makassar, pihaknya memfokuskan pengamanan untuk mengantisipasi masuknya imigran gelap.

Selain untuk menyelundupkan imigran ke Indonesia, Selat Makassar juga digunakan sebagai perlintasan menuju Australia. TNI AL, lanjut dia, juga menyoroti penegakan hukum terhadap para pelaku illegal fishing, illegal logging, serta sektor pertambangan.

Sementara itu, dalam sertijab Danlantamal VI Makassar, Komandan Lantamal yang lama, Brigjen TNI Marinir M Suwandi Tahir, digantikan oleh Laksamana Pertama TNI Arie Soedewa. Sebelumnya Arie menjabat Komandan Gugus Tempur Laut Koarmatim. Sedangkan Suwandi akan bertugas di Mabes TNI AL di Jakarta.

Kamis, 17 Oktober 2013

Rusia Tawarkan Pengembangan Pesawat Tempur Generasi 5 ke Brazil

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRHVxToRqjQLD0n_YosATEzBav7qGMiSh0tfbhN9uyLWUJOPUMS_2ZKihjE2fdTuAs0NgRhewHuS6ML05dTOWpiAOvKBOe6fFTuT5P_nR8BWpz8VFXz97K6CxrGWVRGUBt_BhKcE2EmdM/s1600/t-50.jpg

Delegasi militer Rusia menawarkan program pengembangan bersama pesawat tempur generasi ke-5 kepada Departemen Pertahanan Brazil selama kunjungannya ke Brazil, seorang anggota delegasi yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada RIA Novosti.

Anggota delegasi tersebut mengatakan bahwa selama pembicaraan di Brazil, kami tidak hanya siap menawarkan penjualan pesawat canggih siap kirim Sukhoi Su-35 kepada mitra kami, tetapi juga menawarkan program pengembangan bersama pesawat tempur generasi ke-5 berdasarkan jenis T-50.

Dipimpin oleh Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, rombongan delegasi yang saat ini tengah berkunjung selama tiga hari ke Brazil dan Peru, berupaya mempromosikan senjata-senjata buatan Rusia kepada kedua negara tersebut.

Tawaran pengembangan bersama pesawat tempur generasi ke-5 ini dianggap sebagai tawaran manis Rusia untuk memuluskan penjualan Su-35 terkait program modernisasi multi-miliar dolar Angkatan Udara Brazil (FAB) yang disebut "Project F-X2". Beberapa pesawat lain yang masuk dalam target proyek F-X2 antara lain Eurofighter Typhoon, Saab AB Gripen, Dassault Rafale, Boeing F/A-18E/F Super Hornet dan termasuk pesawat tempur generasi ke-5 Amerika Serikat F-35 Lightning II.

Sebelumnya Su-35 sempat dieliminasi oleh FAB. Diketahui FAB memiliki dana proyek F-X2 senilai AS$ 4 miliar untuk setidaknya mendapatkan 36 pesawat tempur generasi ke-4 guna menggantikan pesawat tempur F-5 dan Dassault Mirage, menurut RIA Novosti.

Pesawat tempur Saab Gripen NG, Dassault Aviation Rafale dan Boeing FA - 18E/F Super Hornet hingga kini masih bersaing untuk mendapatkan kontrak dari proyek F-X2 yang sudah sejak lama digulirkan, bahkan kini dilaporkan proyek ini ditunda FAB hingga 2015.

Program PAK FA diluncurkan sebagai upaya menghadirkan sistem penerbangan untuk masa depan Rusia, hasilnya adalah pesawat tempur super manuver Sukhoi T-50 yang dilengkapi dengan fitur siluman untuk menghindari radar, dan juga dapat melakukan penerbangan supersonik dengan kecepatan lebih dari 2.000 km/jam, dan tentu saja kemampuan untuk melakukan pengisian bahan bakar di udara. Didukung oleh dua mesin turbofan Saturn-Lyulka 117S, pesawat generasi ke-5 ini akan masuk ke Angkatan Udara Rusia untuk menggantikan armada MiG-29 Fulcrum dan Su-27 Flanker.

BTR-80A : Monster Amfibi Korps Marinir

http://anony.ws/i/2013/09/04/kK85B.jpg

Jumlahnya memang tak seberapa, panser amfibi andalan Korps Marinir TNI AL ini hanya ada 12 unit. Tapi ada kesan mendalam tentang panser beroda delapan ini, walau unit yang dimiliki Korps Marinir amat terbatas, BTR-80A Indonesia sudah mendapat penugasan dalam misi memperkuat batalyon mekanik pada pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon. Hal ini menandakan Indonesia tidak pelit untuk berpartisipasi dalam menjaga perdamaian dunia, walau alutsista yang dimiliki masih minim.

Berbeda dengan panser-panser buatan Eropa Barat dan Amerika. BTR-80A besutan Rusia tampil garang, dengan bobot lebih dari 13 ton panser ini jelas mempunyai efek deteren yang dahsyat, belum lagi pamor keluarga BTR-80 yang sudah kesohor sebagai kampiun di berbagai medan perang.

Dari rancang bangunnnya, BTR-80 adalah pengangkut personel lapis baja (APC) beroda 8×8 yang dirancang KBP Tula dengan pabrik Arzamas Plant di Rusia. BTR-80 telah diproduksi dalam berbagai varian, produksi perdana dimulai pada tahun 1986 untuk menggantikan versi panser APC sebelumnya, yaitu BTR-60 dan BTR-70. Versi BTR-80A adalah varian ekspor, beberapa varian BTR-80 lainnya seperti BTR-80K (pusat komando lapangan), BMM (ambulans lapis baja) dan SVK (kendaraan angkut meriam kaliber 120mm).

BTR-80A secara resmi memperkuat Korps Marinir TNI AL pada 15 November 2002, dan ke 12 unit panser ditempatkan di dua resimen Kavaleri Marinir, yakni di Surabaya dan Jakarta. Apa saja senjata andalan panser ini? Komponen senjata utamanya yakni mitraliur 2A72 co axial (kaliber 30 mm dengan daya tembak 330 butir peluru per menit) dan senapan mesin PKT (kaliber 7,62 mm x 39 dengan untaian 2.000 butir peluru berjarak tembak 1500 meter), serta tak ketinggalan enam pelontar granat asap untuk kamuflase tempur.

Kelebihan lain BTR-80A adalah adopsi ban jenis KI-126 yang kebal ditembus peluru kaliber berat, 12,7 mm. Walau pun ban rusak parah, kabarnya tetap tidak kempes hingga 10 jam. Sebagai panser modern, awak dan pasukan dapat terlindung dari bahaya serangan senjata NBC (nuklir,biologi, kimia).

http://www.armyrecognition.com/Asie/Indonesie/vehicules_a_roues/BTR-80A/BTR-80A_Indonesia_01.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqwg5JEvtqwVI2dlYABvjXneHZRsQNXsDYZIOaTh3KHMPiLXWrDbWeA_uosvo_Ggwl78TSmzD0tLck1ZWci84mnKl3UHo5CJy2UlxgqIVJjJjPPlbhKJuVhnZx7H-QTDKOFKm3VZQ2iWs/s1600/BTR-80A-TNI.jpg

BTR-80A ditenagai oleh mesin diesel YaMZ-238M2 240 PK, kemapuan mesin dapat memacu panser dengan kecepatan maksimum 80 km/jam di jalan raya dan 40 Km/jam di medan off road. Sebagai panser amfibi, panser ini mempunyai sebuah jet air untuk melaju di perairan, secara teori kecepatan di air mencapai 9 Km/jam. Saat menerjang gelombang laut, pandangan pengemudi tak terhalang debur ombak, sebab lempeng baja persegi pemecah ombak terpasang pada bagian halugan. Dan pengemudi bisa tenang mengemudi di laut berkat adanya periskop jenis TNPO-165.

Spesifikasi BTR-80A
  • Jumlah awak 10 (3+7)
  • Berat: 13,600 kg +3%
  • Power-to-weight ratio: 19.1 hp/t
  • Mesin Disel 7403 four-stroke 8-cylinder, liquid cooled, 260 hp
  • Roda: pneumatic, tubeless
  • Panjang : 7,65 meter
  • Lebar : 2,9 meter
  • Tinggi : 2,35 meter
  • Jejak roda 2.41 meter
  • Kecepatan Maksimum : 80 km/jam di jalan raya, 40 Km/jam di off road dan 9 km/jam di air
  • Jarak tempuh di jalan raya: 600 km
  • Jarak tempuh medan off road: 200 – 500 km
  • Jarak tempuh amfibi: 12 jam