Komodo, Made In PT Pindad Indonesia

That was a name that given to PT Pindad latest 4×4 tactical vehicle.

SS2 Made In PT. Pindad Indonesia

SS2-V5 has a long barrel 252mm. compare with SS2-V1-V2= 460mm, SS2-V4=403mm and 460mm, with a shorter barrel.

Made In PT. Pindad Indonesia : APS-3 ANOA

Mesin Berkapasitas 7000 cc dan 320 tenaga kuda.

PT. Dirgantara Indonesia

Pesawat CN-295 Buatan Indonesia dan Spanyol memiliki Panjang: 24,50 meter, Tinggi: 8,66 meter, Rentang sayap: 25,81 meter.

Made In PT. PAL Indonesia

Kapal Perang jenis LPD Memiliki Kecepatan 15,4 knots, Panjang 125 m (410.10 kaki), Lebar 22 m (72.18 kaki) .

Torpedo SUT, Made In : PT. Dirgantara Indonesia

Jarak operasional: 28 km, Kecepatan/ jarak: 35 knots/24,000 yd; 23 knots/ 56,000 yd, Hulu ledak: 225 kg, kedalaman menyelam: 100 m

SS4 Made In PT Pindad Indonesia

Amunisi GPMG FN MAG 58/7,62 x 51 mm, Kaliber 7,62 mm.

Daftar Pasukan Elite Tentara Nasional Indonesia

1.Denjaka, 2.YonTaifib, 3.Kopaska, 4.Kopassus, 5. DetBravo-90.

Kapal Perang Berteknologi Anti Radar Buatan Indonesia

Panjang 63 meter, Lebar 16 meter, Bobot 219 ton, Mesin utama 4x MAN 1800 marine diesel engine nominal 1.800 PK+ 4x waterjet MJP550.

SPR-1, SPR-2, SPR-3 Made In PT Pindad Indonesia

Senjata Sniper Buatan PT. Pindad Indonesia ini diberi nama Senapan Penembak Runtuk, Mampu menembak Baja setebal 3 cm.

KFX/IFX : Pesawat Tempur Buatan Indonesia - Korsel, Berteknologi Anti Radar (Pesawat Siluman)

Status : Proses pengerjaan telah selesai sampai Tahap II, Dan saat ini proyek pengerjaan telah di Tunda Sampai Juni 2014

Helikopter Gandiwa Made In : PT. Dirgantara Indonesia

Nama GANDIWA diambil dari nama senjata milik Arjuna yang didapat dari Dewa Baruna. Persenjataan : kanon laras tunggal kaliber 30 mm tipe M230 Chain Gun, roket Hydra 70 dan CRV7 kaliber 70 mm.

Kamis, 10 Oktober 2013

Singapura Beli 6 Sistem Radar AN/TPQ-53 dari AS

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTjpmR_syb6KY8LQh3wKvyObuVlTFgO3bgnBSgT8-D17GZoQRDgwabJ0Sd7Bf1_6F4MlDA2RGHO3r-ItajYj6svSSpzWipFyR1jJ-2-a-AeV4Mr4XudTF3qZsKZZpD5aoUU8AhXRTvHi0/s1600/radar_AN-TPQ-53.jpg

Defense Security Cooperation Agency (DSCA) pada hari ini menotifikasi Kongres AS tentang kemungkinan penjualan 6 unit sistem radar AN/TPQ-53 Counterfire Acquisition kepada Singapura dan peralatan yang terkait, suku cadang, pelatihan dan dukungan logistik dengan perkiraan biaya AS$ 179 juta (sekitar Rp 2 triliun).

Sebelumya pemerintah Singapura telah mengajukan permohonan untuk membeli 6 unit sistem radar AN/TPQ-53 yang kemampuan pindai sektornya 120 derajat, perangkat lunak, peralatan pendukung simulator, generator, unit daya, publikasi dan dokumentasi teknis, cadangan dan peralatan perbaikan, live fire exercise, peralatan komunikasi tambahan, peralatan dan perlengkapan uji coba, pelatihan dan peralatan personil, dan dukungan teknis dari pemerintah AS dan kontraktor, repair dan return, Quality Assurance Teams, dan elemen atau program dan dukungan logistik terkait lainnya. Biaya diperkirakan sebesar AS$179 juta.

Usulan penjualan yang diajukan oleh DSCA AS ini akan memberikan kontribusi bagi kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS karena akan meningkatkan kemampuan pertahanan Republik Singapura untuk berkontribusi untuk keamanan regional, yaitu untuk kontra pembajakan dan kontra terorisme dan terus menstabilkan chokepoint kritis dimana banyak barang yang dibutuhkan dunia dikirimkan melalui kawasan Asia Pasifik terutama Selat Malaka.

Pemerintah Singapura berniat untuk menggunakan sistem radar AN/TPQ-53 untuk memodernisasi Angkatan Bersenjatanya. Pembelian sistem radar ini akan meningkatkan kemampuan pertahanan dasar Angkatan Darat Singapura. Radar akan mereduksi kerentanan terhadap serangan dan memberikan informasi bagi Angkatan Darat Singapura untuk menanggapi serangan tersebut. Sistem radar ini akan menjadi aset penting bagi Singapura untuk terus melindungi atau mencegah potensi ancaman. AS menyebutkan Angkatan Darat Singapura tidak akan mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan sistem radar ini.

AS mengatakan, usulan penjualan peralatan dan dukungan tersebut tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan Asia Pasifik khususnya di Asia Tenggara.

Kontraktornya adalah Lockheed Martin Corporation di Syracuse, New York. Tidak ada perjanjian tambahan terkait potensi penjualan ini. Selanjutnya, pemerintah AS dan perwakilan kontraktor akan terbang ke Singapura untuk melihat kesiapan Singapura.

Usulan penjualan ini memang diperlukan dalam hukum penjualan alutsista AS ke luar negeri, bukan berarti penjualan sistem radar ini sudah disimpulkan.

Pesawat Tempur F-35 yang Dibeli Australia dari AS Mulai Dirakit

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhlmkFYtU4KqSnRoT5-zVmi6Aep1c5gbh9oS0zUn0URPN_c1Ah2c2s3aGJETc5rmfW_8pglW5TD28J_LHUsrwK-1Za0a6TVVdgbvVvYNaQlUMUUHujIKg6m4-8wGOZS7Teady02MK5JWFo/s1600/tempat_perakitan_f-35_australia.jpg

FORT WORTH, Texas, 8 Oktober 2013 - Lockheed Martin dan Angkatan Udara Australia (RAAF) merayakan pembuatan pesawat tempur F-35 Lightning II pertama untuk Australia. Lockheed Martin telah memulai proses pembuatan untuk F-35 pertama Australia yang diberi kode AU-1 itu, di mana komponen utama pesawat digabungkan untuk menghasilkan struktur pesawat. AU-1 ini akan masuk ke jalur perakitan dan kemudian keluar dari pabrik untuk segera dikirimkan kepada RAAF pada musim panas 2014.Jeff Babione, Wakil Presiden dan Wakil Manajer Program F-35 Lockheed Martin, menanggapi kemitraan antara Lockheed Martin dan Australia dengan mengatakan "Hari ini menjadi awal baru bagi penerbangan taktis Australia. Lockheed Martin bangga dengan hubungan panjang dengan penerbangan Australia, dan sekarang F-35 akan menjadikan hubungan dengan RAAF semakin kuat dalam beberapa dekade mendatang."

Tercatat ada 14 perusahaan Australia dalam rantai pasokan global F-35. Perusahaan-perusahaan ini di bawah kontrak untuk membuat bagian-bagian untuk F-35. Setiap F-35 yang dibangun, maka disitu terdapat bagian dan komponen buatan indutri Australia.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkSg8k7B_9x1JDZyPDgdhKiTkpjYMsriE3skk3vwMQb9KFpmGuOGaJtgKgNL_YPudUpuMeEmSbNr3BZe9t2ObYApv1ZFtknSZy5R05ZaKZrqHefgqXNqB69PU7EG1Vve5OIf4ZU_aRVm0/s1600/F-35.jpg

Acara ini juga menandai hubungan yang lama antara Lockheed Martin dan Angkatan Bersenjata Australia, yang dimulai dengan Lockheed Vega, F-111 dan akhirnya F-35. Untuk pengiriman pertama, Australia akan mendapatkan 2 unit F-35 yang sekarang baru mulai diproduksi, dan akan dikirimkan ke RAAF tahun depan.

F-35 Lightning II adalah pesawat tempur generasi ke-5, menggabungkan fitur siluman canggih dengan kecepatan dan kelincahan tempur, sistem misi canggih, informasi sensor yang sepenuhnya menyatu, network-enabled operations dan cutting-edge sustainment. F-35 terdiri dari 3 varian berbeda yang akan menggantikan pesawat A-10 dan F-16 Angkatan Udara AS, F/A-18 Angkatan Laut AS, dan F/A-18 dan AV-8B Harrier Korps Marinir AS, dan akan menggantikan berbagai pesawat setidaknya untuk 10 negara lain.

Berkantor pusat di Bethesda, Md, Lockheed Martin adalah perusahaan kedirgantaraan dan keamanan global yang mempekerjakan sekitar 116 ribu orang di seluruh dunia. Lockheed Martin bergerak dalam bidang penelitian, desain, pengembangan, manufaktur, integrasi, dan terus mengembangkan sistem canggih, produk dan jasa. Penjualan bersih Lockheed Martin pada 2012 adalah sebesar AS$ 47,2 miliar.

TNI Angkatan Udara Tak Mau Dipermainkan Lagi

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7BTLMr_LxNAcNoIlroJaDuegWrSWhgQwKASI1n88Z0iWBWwxswFPnOUYHe5e8Y0v2y3aQbLapQhEpB-u3gESM_rbloTEAKH5xujqfBg08oyqnZeQtaQVJmzq1sYxLdgrxe2lmBkd-M8kT/s400/image.tempointeraktif.com.jpg

Pengalaman menjadi guru yang paling berharga. Luasnya wilayah Nusantara yang tidak diimbangi dengan kekuatan peralatan tempur udara yang memadai menjadi salah satu faktor munculnya kasus Ambalat. Guna mencegah terjadinya kasus serupa, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara berencana menambah skuadron di Pekanbaru, Riau, dan Biak, Papua, untuk melengkapi kekuatan pengawasan wilayah teritorial Indonesia.

Hal ini seiring bertambahnya jumlah pesawat tempur F-16 dalam program Minimum Essential Force (MEF). Kepala Pusat Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Suyadi Bambang Supriyadi mengatakan rencana penambahan skuadron ini untuk memperkuat pengawasan di wilayah barat dan timur Indonesia dari ancaman luar.

Penambahan skuadron ini dinilai cukup penting mengingat luas wilayah Tanah Air dan banyaknya daerah perbatasan dengan negara lain. Sistem pengawasan wilayah teritorial Indonesia beda dengan negara lain karena merupakan negara kepulauan."Kalau negara lain mengawasi daerahnya sendiri. Kalau negara kita ya mengawasi kayak kawasan Asean,” ujar Suyadi kepada detikcom kemarin.

Suyadi menekankan, penambahan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) bukan alasan mengikuti negara lain. Namun, lebih untuk tujuan kekuatan pertahanan nasional yang punya wilayah sangat luas.

Ia mengaku optimistis soal sasaran pemerintah terkait target program MEF selesai pada 2019 dari yang sebelumnya 2024. Namun, meski diharapkan bisa selesai 2019, bukan berarti ada pengurangan armada alutsista yang baru. “Ini kan soal perbandingan dengan luas wilayah. Itu tidak boleh dikurangi. Kalau begitu, nanti negara lain akan main-main dengan kita. Kayak kasus Ambalat karena dia tahu dulu kita masih minim kekuatan alutsista pesawat tempur,” katanya menegaskan.

Pengamat militer dari Universitas Indonesia Andi Wijayanto menilai upaya modernisasi alutsista TNI sudah terbilang baik. Mengacu pada target pencapaian kekuatan pokok minimum MEF 2024, modernisasi yang sudah dilakukan pemerintah sudah di atas target. "Hal ini karena penambahan anggaran pengadaan alutsista Rp 149 triliun untuk 2010-2014," ujar Andi.

TNI Sebut Amerika Pelit Teknologi

http://images.detik.com/albums/detiknews/alutsista-tni/Modernisasi-_Alutsista_AD_infografis_detiknews.jpg

Pemerintah dalam pengadaan alat utama sistem senjata atau Alutsista menjalin kerja sama dengan beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Perancis, dan Korea Selatan. Masing-masing negara produsen tersebut mempunyai keunggulan teknologi tersendiri. Dari kerja sama itu, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Sisriadi Iskandar mengungkapkan ada strategi tersendiri dari pemerintah Indonesia.

Sisriadi menegaskan pemerintah tidak terikat pada negara tertentu karena Indonesia punya pengalaman embargo tahun 1990-an hingga 2000-an oleh Amerika. Indonesia punya pesawat tapi tidak dapat terbang karena suku cadangnya tak bisa dibelikan. "Karena pengalaman itu makanya kita jadi beli di mana-mana, jadi diembargo di sini kita masih bisa beli di sana,” ujar dia kepada wartawan, kemarin. Selain itu, pemerintah juga tak mau membeli alutsista dari satu sumber karena alasan teknologi. “Amerika itu pelit enggak mau kalau sekalian sama teknologinya,” kata Sisriadi.

Persoalan transfer teknologi memang jadi perhatian tersendiri. Untuk mengoperasikan alat-alat super canggih itu diperlukan keterampilan sumber daya manusia yang tinggi. Sesuai Undang-Undang Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, dalam setiap pembelian sistem senjata dari luar negeri wajib ada konten lokal. Bentuknya antara lain pelatihan, kerja sama pembuatan, dan kerja sama operasi.

Sisriadi berujar, kerja sama PT Dirgantara Indonesia dengan Kanada adalah salah satu bentuk kerja sama dan transfer teknologi tersebut. Sementara dari produsen lain, pembelian senjata juga umumnya sepaket dengan training. "Setiap kontrak ada klausul bahwa operator akan dilatih di negara itu. Dan yang kita kirim adalah tenaga-tenaga intinya, jadi nanti dia pulang akan menyebarkan ilmu,” jelasnya. Dia optimistis kemampuan prajurit Tanah Air bisa mengimbangi kecanggihan teknologi alutsista yang baru.

Anggota Komisi Pertahanan dan Luar Negeri DPR, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati atau Nuning mengatakan sudah seharusnya industri pertahanan dalam negeri diberi kesempatan besar untuk pembuatan alutsista TNI. "Ini untuk menyesuaikan kebutuhan teritorial wilayah negara dan sistem kemandirian dalam kemampuan yang bisa terus berkembang," ujar politikus Partai Hanura.

Rabu, 09 Oktober 2013

Belanda Nyatakan Menyesal Karena Pembatalan Penjualan Tank Leopard ke Indonesia

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjg_VkiVNITLn-559yiF-dUzTTj4xyS1iHUy_PdW6H3wzLBLQ_vvqcQ8Hpk_vTnMJI-__8djjY2PyDJ4uGJ0kCSQI2-7pDnSD8PsTz63Nl0F4heqFeWkQo-IqOk-ToMCzdvFDRkFwo2FISR/s1600/vm3m.jpg

Kementerian Pertahanan Kerajaan Belanda menyesalkan dibatalkannya rencana penjualan tank Leopard ke Indonesia pada dua tahun lalu. Hal itu dikemukakan Menteri Pertahanan Kerajaan Belanda Jeanine Hennis Plasschaert saat mengunjungi Kementerian Pertahanan RI di Jakarta, Rabu (9/10/2013).

Plasschaert mengaku menyesal atas keputusan parlemen Belanda untuk menolak keinginan pembelian tank oleh Indonesia kepada negara itu pada 2011 lalu. "Pendahulu saya mengalami waktu sulit ketika menghadapi masalah itu. Saya tak mau kejadian seperti ini terjadi lagi. Apalagi kalau kita bicara kerja sama dan partnership," ujarnya.

Pada 2011, parlemen Belanda menolak rencana penjualan sejumlah tank Leopard ke Indonesia karena dinilai rawan dengan aksi pelanggaran hak asasi manusia. Namun demikian, Plasschaert mengatakan penyesalan tersebut tidak lantas dapat diartikan bahwa Belanda akan kembali memroses penjualan tank ke Indonesia.

"Tidak ada deal yang spesifik saat ini," katanya. Dia menegaskan bahwa permohonan maaf yang ia lontarkan bukan atas proses di parlemen. "Saya tak bisa memohonkan maaf atas proses demokrasi yang terjadi," katanya. Lebih lanjut dia menyesal karena peristiwa penolakan penjualan tank ke Indonesia tidak menguatkan hubungan kedua negara.

"Saya menghargai kerjasama kedua negara. Tetapi merevisi keputusan atas [pembatalan penjualan] tank itu tak akan memberangus hubungan Indonesia - Belanda," tegasnya. Siang ini, Menteri Pertahanan Kerajaan Belanda Jeanine Hennis Plasschaert berkunjung ke Indonesia untuk melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro.

Dalam pertemuan bilateral tersebut, menteri pertahanan kedua negara sepakat untuk memperkuat kerja sama pertahanan secara lebih konkret yang dapat menguntungkan kedua negara. Kerja sama pertahanan tersebut antara lain mencakup bidang pendidikan dan pelatihan serta pengadaan peralatan pertahanan. Kerjasama pada sektor pengadaan peralatan dan industri pertahanan menjadi salah satu agenda penting.

"Kami di sini membahas masalah-masalah yang terkait masalah global, regional, dan hubungan bilateral Indonesia-Belanda. Kami baru akan bicarakan soal MoU kerjasama pertahanan ke depan. Kita bisa bicarakan di atas kertas apa yang kami butuhkan dan mereka bisa berikan," ujar Purnomo. Dalam waktu dekat, ujarnya, pihak Kementerian Pertahananan RI akan ke Belanda untuk memformulasikan nota kesepahaman (MoU).

Perwakilan Tentara Diraja Malaysia Berkunjung Kemarkas TNI-AU di Makasar

http://www.tni.mil.id/mod/news/images/normal/atm-17-11-11.gif

TNI Angkatan Udara menjamu perwakilan tentara Diraja Malaysia di Makassar, Sualwesi Selatan. Pertemuan keduanya untuk membahas kerja sama bilateral di bidang militer udara antara Indonesia dengan Malaysia, Rabu (9/10).

Panglima Komando Operasi Angkatan Udara II Marsekal Muda Agus Supriatna menjamu Panglima Divisi I Tentara Diraja Malaysia Mayor Jenderal Datok Ansar Ali Majeth. Suasana akrab tampak di ruang lobi markas komando Angkatan Udara II.

Datok Ansar menyambut baik jamuan tersebut. Ia mengaku kedatangannya ke Indonesia untuk mempererat jalinan kedua negara. Keduanya pun berencana melakukan latihan bersama namun belum menentukan jadwalnya.

Itu bertujuan mengamankan perbatasan kedua negara dari wilayah udara. Koordinasi akan semakin digiatkan agar pengamanan tak memunculkan kesalahpahaman saat TNI bertugas di perbatasan masing-masing negara.

Kapal Perang Israel Tembaki Nelayan Palestina

http://mariaenpalestina.files.wordpress.com/2013/03/pescadores-en-gaza-durante-una-protesta-contra-los-ataques-y-confiscacic3b3n-de-sus-lanchas-por-la-marina-israelc3ad-joe-catron.jpg

Kapal perang Israel dilaporkan telah menembaki para nelayan Palestina di Jalur Gaza pada Rabu (9/10/201) pagi. Demikian dilaporkan kantor berita Ma’an News, mengutip pengakuan sejumlah warga lokal. Saksi mata mengatakan kepada Ma'an News, bahwa pasukan Angkatan Laut Israel menembaki nelayan Palestina di lepas pantai Jalur Gaza.

Seorang Juru Bicara militer Israel mengatakan, perahu nelayan itu telah melenceng dari bidang perikanan yang ditentukan dan kapal perang Israel melepaskan tembakan peringatan ke udara. “Kemudian, perahu nelatan itu kembali ke wilayah yang telah ditentukan,” jelasnya.

Pada Mei silam, Pemerintah Israel memperluas zona penangkapan ikan bagi nelayan di Jalur Gaza menjadi 6 mil. Sebelumnya, selama bertahun-tahun, Israel hanya memperbolehkan nelayan Palestina melaut hingga 3 mil. Kondisi ini sangat menyulitkan para nelayan untuk mencari ikan.

Perluasan zona ini dicapai sebagai bagian dari gencatan senjata yang dimediasi Mesir yang mengakhiri konflik delapan hari antara Israel dan Hamas pada November silam. Namun sebenarnya, menurut Perjanjian Oslo, Israel setuju untuk menerapkan zona penangkapan ikan sejauh 20 mil laut lepas pantai Gaza.

Badan Tenaga Nuklir Nasional: Indonesia Miliki Cadangan Uranium 70.000 Ton

http://www.ristek.go.id/file/gallery/2012/02/nuklir.jpg

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memperkirakan terdapat cadangan 70.000 ton Uranium dan 117.000 ton Thorium yang tersebar di sejumlah lokasi di Indonesia, yang bisa bermanfaat sebagai energi alternatif di masa depan. "Untuk Uranium potensinya dari berbagai kategori, ada yang dengan kategori terukur, tereka, teridentifikasi dan kategori hipotesis, sedangkan Thorium baru kategori hipotesis belum sampai terukur," kata Direktur Pusat Pengembangan Geologi Nuklir Batan Agus Sumaryanto di sela peluncuran Peta Radiasi dan Radioaktivitas Lingkungan di Jakarta, senin.

Sebagian besar cadangan Uranium kebanyakan berada di Kalimantan Barat, sebagian lagi ada di Papua, Bangka Belitung dan Sulawesi Barat, sedangkan Thorium kebanyakan di Babel dan sebagian di Kalbar. Kajian terakhir dilakukan di Mamuju, Sulbar, dimana deteksi pendahuluan menyebut kadar Uranium di lokasi tersebut berkisar antara 100-1.500 ppm (part per milion) dan Thorium antara 400-1.800 ppm.

Kecamatan Singkep, Kabupaten Mamuju juga menjadi kawasan yang laju dosis radiasi gammanya tercepat di Indonesia dibanding rata-rata nilai laju dosis radiasi Gamma di Indonesia yang 46 nSv per jam, kata Direktur Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi Batan, Susilo Widodo.

Ia mengatakan, pihaknya telah menyusun Peta Radiasi dan Radioaktivitas Lingkungan sebagai data dasar, sehingga kalau ada kenaikan radiasi yang disebabkan faktor bukan alami misalnya radiasi hasil lepasan industri atau kecelakaan nuklir, bisa diketahui dengan cepat. Susilo mengatakan, saat terjadi kecelakaan reaktor nuklir Fukushima pihaknya tidak mendeteksi adanya radiasi nuklir yang masuk ke wilayah Indonesia.

"Secara alamiah, radiasi nuklir dari Jepang di utara sulit menyebrang ke kawasan katulistiwa. Justru jika dilihat dari posisi dan arah angin potensi radiasi dari Jepang akan masuk lebih dulu ke Amerika Serikat dan terakhir China," katanya. Peta ini, ujarnya, juga penting untuk mengkaji efek kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di daerah radiasi tinggi serta indikasi bahan tambang seperti Uranium, Thorium dan mineral sejenisnya.

Peta tingkat radiasi dan radioaktivitas lingkungan di Indonesia ini, urainya, terdiri dari lima peta, yakni peta laju dosis radiasi gamma lingkungan dan peta tingkat konsentrasi radionuklida alam Thorium-228, Thorium-232, Radon-226, dan Kalium-40 dalam sampel permukaan. Batan juga meluncurkan URL monitor radiasi lingkungan kawasan reaktor nuklir Serpong dimana telah dipasang lima monitor gamma di kawasan itu selama 2012-2013 dan meluncurkan "GPS tracking" untuk transportasi limbah di Indonesia.

Indonesia dengan Mudah Membuat Senjata Nuklir
Indonesia kini telah mampu membuat teknologi nuklir dan itu pun berarti indonesia dengan mudah dapat membuat Senjata nuklir, tetapi indonesia telah berkomitment untuk tidak membuat nuklir sebagai senjata itu dikatakan oleh anggota DPR “Indonesia sudah berkomitmen untuk tidak membuat senjata nuklir. Indonesia hanya akan menggunakan teknologi nuklirnya untuk hal-hal yang bermanfaat untuk manusia dan kemanusiaan,” ujar anggota Komisi I DPR, M. Nadjib

Banyaknya ahli nuklir di indonesia dan SDM kita pun banyak di pakai oleh negara lain untuk menngembangkan teknologi nuklir. Indonesia mampu jika berniat membuat senjata nuklir, karena indonesia mempunyai SDA (Sumber Daya Alam) yang cukup seperti tambang uranium di mamuju, Sulawesi Barat yang merupakan terbaik di indonesia. tambang di mamuju inilah yang sedang di incar pihak asing. selain mamuju ada beberapa tambang Uranium seperti tambang Remaja-Hitam dan tambang Rirang-Tanah Merah. Kedua uranium tersebut terletak di Kalimantan Barat.

Dengan adanya Sumber daya Alam dan didukung oleh Sumber Daya Manusia yang ahli dalam bidang nuklir, serta 3 pangkalan nuklir otomatis indonesia dengan sangat mudah mengembangkan Teknologi Nuklir menjadi senjata. Tetapi pemerintah pusat tidak menginginkan hal itu dilakukan karena bisa menjadi pemicu terjanya konflik antar negara. Pemerintah menyadari bahwa Indonesia telah di awasi dan disoroti oleh 3 negara besar.

Indonesia Targetkan Buat Persenjataan Perang Dengan Teknologi Tinggi

http://www.tubasmedia.com/wp-content/uploads/2011/11/011111-edutaiment3.jpg

Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian, Budi Darmadi mengatakan, saat ini, industri pertahanan di dalam negeri telah mampu menguasai teknologi untuk level menengah. Ke depan, penguasaan teknologinya akan ditingkatkan menjadi lebih tinggi lagi.

Pemerintah juga berambisi menaikkan level pemenuhan konten lokal industri tersebut di atas 35%. “Kami memacu pertumbuhan industri agar bisa memenuhi kandungan lokal 35%. Jadi, untuk pengadaan alutsista atau almatsus (alat material khusus), 35% di antaranya diserahkan untuk pengerjaan di dalam negeri,” tutur Budi.

Menurut dia, industri pertahanan di Tanah Air sebenarnya sudah bisa memproduksi berbagai jenis alat pertahanan dan pendukungnya. Tapi, alusista dengan level teknologi tertentu dan umumnya belum menggunakan teknologi tinggi. “Misalnya, untuk peluru dengan radar dan dengan waktu meledak yang sudah diatur, itu belum bisa kita buat,” kata Budi. .

Mengutip data Kementerian Riset dan Teknologi, masterplan pembangunan industri pertahanan nasional ditetapkan tahun 2010-2029. Indonesia diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pokok matra darat, laut, dan udara TNI, sehingga bisa mandiri tahun 2029.

Selasa, 08 Oktober 2013

Kasum TNI Bertemu Perwakilan Militer Singapura di Hotel Borobudur

http://data.tribunnews.com/foto/berita/2013/10/8/DSC_3323.JPG
http://data.tribunnews.com/foto/berita/2013/10/8/DSC_3377.JPG

Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Marsdya TNI Boy Syahril Qamar, S.E.,  secara resmi membuka pertemuan TNI dengan Singapore Armed Forces (SAF) Annual Staff Meeting  (TSASM) di Belitung Room Hotel Borobudur Jakarta Pusat, Selasa (8/10/2013).

Dalam rilis yang diterima redaksi Tribunnews.com, agenda pertemuan tersebut adalah membahas tentang kerjasama di bidang intelijen, operasi dan latihan, logistik serta pendidikan yang akan dilaksanakan oleh kedua Angkatan Bersenjata.