Komodo, Made In PT Pindad Indonesia

That was a name that given to PT Pindad latest 4×4 tactical vehicle.

SS2 Made In PT. Pindad Indonesia

SS2-V5 has a long barrel 252mm. compare with SS2-V1-V2= 460mm, SS2-V4=403mm and 460mm, with a shorter barrel.

Made In PT. Pindad Indonesia : APS-3 ANOA

Mesin Berkapasitas 7000 cc dan 320 tenaga kuda.

PT. Dirgantara Indonesia

Pesawat CN-295 Buatan Indonesia dan Spanyol memiliki Panjang: 24,50 meter, Tinggi: 8,66 meter, Rentang sayap: 25,81 meter.

Made In PT. PAL Indonesia

Kapal Perang jenis LPD Memiliki Kecepatan 15,4 knots, Panjang 125 m (410.10 kaki), Lebar 22 m (72.18 kaki) .

Torpedo SUT, Made In : PT. Dirgantara Indonesia

Jarak operasional: 28 km, Kecepatan/ jarak: 35 knots/24,000 yd; 23 knots/ 56,000 yd, Hulu ledak: 225 kg, kedalaman menyelam: 100 m

SS4 Made In PT Pindad Indonesia

Amunisi GPMG FN MAG 58/7,62 x 51 mm, Kaliber 7,62 mm.

Daftar Pasukan Elite Tentara Nasional Indonesia

1.Denjaka, 2.YonTaifib, 3.Kopaska, 4.Kopassus, 5. DetBravo-90.

Kapal Perang Berteknologi Anti Radar Buatan Indonesia

Panjang 63 meter, Lebar 16 meter, Bobot 219 ton, Mesin utama 4x MAN 1800 marine diesel engine nominal 1.800 PK+ 4x waterjet MJP550.

SPR-1, SPR-2, SPR-3 Made In PT Pindad Indonesia

Senjata Sniper Buatan PT. Pindad Indonesia ini diberi nama Senapan Penembak Runtuk, Mampu menembak Baja setebal 3 cm.

KFX/IFX : Pesawat Tempur Buatan Indonesia - Korsel, Berteknologi Anti Radar (Pesawat Siluman)

Status : Proses pengerjaan telah selesai sampai Tahap II, Dan saat ini proyek pengerjaan telah di Tunda Sampai Juni 2014

Helikopter Gandiwa Made In : PT. Dirgantara Indonesia

Nama GANDIWA diambil dari nama senjata milik Arjuna yang didapat dari Dewa Baruna. Persenjataan : kanon laras tunggal kaliber 30 mm tipe M230 Chain Gun, roket Hydra 70 dan CRV7 kaliber 70 mm.

Jumat, 04 Oktober 2013

Latihan Bersama Singapura, Tangki Cadangan Pesawat Tempur TNI AU Jatuh

http://images.detik.com/content/2013/10/04/10/192936_175633_tangkipesawat.jpg



Sebuah tangki minyak pesawat tempur TNI AU jatuh di Rengat, Kabupaten Inhu, Riau, saat latihan bersama dengan Angkatan Udara Singapura. "Namun saat latihan tadi di sana (Rengat) hanya pesawat TNI kita yang di sana," kata Kepala Penerangan TNI AU, Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Mayor Filfadri. 

Latihan bersama ini diberi nama Joint Fighter Weapon Course (JFWC) itu sudah berlangsung sejak September. Kegiatan ini melibatkan 22 pesawat, enam di antaranya milik Angkatan Udara Singapura. Terkait jatuhnya tangki minyak milik pesawat tempur Hawk 200 pesawat di perkebunan warga itu, pihak Lanud TNI Roesmin Nurjadin langsung melakukan penyelidikan.

"Kita sudah kirim ke sana (lokasi jatuhnya tangki). Namun kita pastikan saat akan berangkat, semua pesawat kita periksa terlebih dahulu. Bagaimana bisa jatuh, itu yang kita selidiki," ucapnya.

Cerita Perang Nenek Astuti dan Kekejaman Tentara Jepang Saat Indonesia Dijajah

https://fbcdn-sphotos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/1378297_445271845593123_1034482948_n.jpg

Nenek Astuti, janda tua dari almarhum veteran BKR Laut, Letda Soegeng Setijoso, meski renta dan keriput, ingatan veteran Palang Merah Indonesia (PMI) semasa perang gerilya ini masih tajam. Cerita dua bocah dan perempuan hamil yang dibantai tentara Jepang dengan sadis, dikisahkan dengan sangat detail. Saat direkrut menjadi anggota PMI, nenek Astuti bercerita, dia masih berusia sangat muda. "Saya masih kecil, masih kelas 3 mau naik kelas 4 (kelas 4 sekolah rakyat). Saya diberi satu setel seragam warna putih, di dada kiri ada lambang PMI-nya," cerita Nenek Astuti dengan Bahasa Jawa.

Masuk sebagai anggota PMI, bersama para pejuang, dari Bojonegoro mereka berjalan kaki menuju Surabaya. "Saya kan asalnya dari Bojonegoro, terus ikut perang jadi PMI itu. Saat perang di Surabaya, saya sama tentara-tentara itu ke Surabaya jalan kaki." Cerita demi cerita terus mengalir dari bibir keriput yang terus digerus usia. Mulai peralatan PMI, seperti obat-obatan hingga kesaksiannya tentang kekejaman perang.

"Tentara Jepang itu paling kejam. Di Bojonegoro, ada dua anak kecil mengambil botol minyak angin di jalan, terus ketangkap. Dia dimandikan dan didudukkan di pangkuan ibunya. Dia diminta tidak menjerit dan menangis. Katanya, kamu jangan menjerit sama nangis. Terus leher mereka langsung digorok (dipenggal)," kenang nenek 77 tahun itu.

Tah hanya itu, kesaksian nenek Astuti atas kekejaman perang, saat pertempuran di Surabaya tahun 1945 silam. Suatu kejadian miris di Putro Agung juga disaksikannya. Seorang ibu muda dalam keadaan hamil dengan dua anak yang masih kecil yang usianya 3 tahun dan 1,5 tahun, meninggal terkena tembakan Inggris. Satu tembakan di paha dan satu tembakan di leher.

"Melihat itu saya menangis, kedua anaknya masih kecil. Surabaya sangat ramai. Hujan peluru di mana-mana, tembakan peluru itu persis kayak hujan. Jalan tidak bisa, harus merangkak, berdiri sedikit kena peluru, ada tentara kita yang coba berdiri sedikit, kupingnya kena peluru," kisahnya lagi.

Nenek Astuti diam sejenak. Coba diingatnya kembali masa-masa gerilya. "Perang itu mengerikan, yang paling mengerikan pertempuran di Siola, Tunjungan dan Hotel Oranje (sekarang Hotel Majapahit) banyak yang meninggal di situ, saya melihat ada yang meninggal posisi sujud, ada yang meninggal tergantung di atap Gedung Hotel Oranje. Banyak sekali orang meninggal di jalanan itu. Waktu dari Bojonegoro jalan ke Surabaya, kita jalan sampai di Bambu Runcing, ramai sekali waktu itu."

Saat aksi perobekan bendera Merah Putih Biru di Hotel Oranje (semasa pendudukan Jepang bernama Hotel Yamato), Astuti muda berada tepat di bawah menara bendera di Hotel Oranye.

Bung Tomo memimpin pertempuran. Di Stasiun RRI dia berpidato mengobarkan semangat perlawanan Arek-Arek Surobojo. Bung Karno juga datang ke Surabaya mengadakan rapat. Perang 10 November pecah, Surabaya banjir darah.

"Bung Karno datang mau ngadakan rapat. Mau ada perundingan dengan tentara sekutu. Jendral Mallaby juga datang, tapi kena tembak di dekat Jembatan Merah," ceritanya.

Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby tewas, sebelum berunding dengan Soekarno. "Setelah perang suami saya, dipindah ke Kalimantan, ke Makasar terus kembali lagi ke Surabaya. Setelah almarhum Bung Karno lengser, pensiun. Saya juga sudah tidak di PMI. Sampai sekarang hidup ya dari uang pensiun. Tidak ada bantuan dari pemerintah. Sekarang uang pensiunnya sudah Rp 1,3 juta, dulu masih sedikit," katanya dengan nada datar.

Yah, nenek Astuti, sejak enam tahun silam telah ditinggal berpulang oleh suaminya Letda Soegeng. Satu dari empat anaknya yang semuanya mengalami keterbelakangan mental ikut meninggal karena sakit di Liponsos Surabaya. Dua orang masih menghuni Liponsos, dan satu orang anaknya masih tinggal bersamanya di Kalibokor Kencana II/12.

Sejak diketahui sebagai veteran perang pada 2011, warga sekitar yang prihatin dengan kehidupan nenek Astuti membantu dengan sukarela. Hingga saat ini, istri Ketua RW Kalibokor Kencana II, Nur merawatnya dengan kasih sayang, meski bukan bagian dari keluarga.

Rumah yang dulu hanya gubuk reot, setelah program bedah rumah dari pihak TNI, kini sedikit terlihat bersih. "Dulu, jangankan tetangganya, orang yang lewat depan rumahnya, pasti muntah, karena baunya minta ampun. Mulai bau kotoran manusia sampai bau sampah jadi satu," celetuk tetangga nenek Astuti.

Di dalam rumah, satu-satunya peninggalan berharga Letda Soegeng adalah Surat Tanda Kehormatan Presiden Republik Indonesia, yang terbingkai usang di dinding rumah. Di belakang surat itu, terdapat foto dan tulisan tangan Letda Soegeng tentang nyanyian "Hiburan Gerilya" yang diciptakan Astuti.

Roket Balistik Kendali GPS Buatan Indonesia Akan Diproduksi Masal Tahun 2015

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyXIH4a7U8M0l1Glm0k_7K5K6u0KImdatLyqpUGN1WlWnudi10Y35W67r60ixWRPHp6jpSfmH-KubHqQ5iMO3YlB8U_EpqB5wLj08XUXMsgH9cGgxv5wyQ9Rqi5fZCkoxtFSKiyZYdVvUu/s1600/rhan122.png

Pemerintah sedang mengembangkan roket pertahanan generasi pertama bernama R-Han 122 mm untuk mengurangi ketergantungan roket impor. Produk roket R-Han 122 mm dikerjakan dan dikembangkan  oleh BUMN dan lembaga lainnya.

"Masih konsorsium. Ada PT Dirgantara Indonesia, PT Dahana, ada PT Pindad. Ini sinergi akademisi, bisnis, Ristek, BPPT, Kementerian Pertahanan," kata Direktur Perencanaan & Pengembangan PT Pindad (Persero) Wahyu Utomo di pameran produk pertahanan silang Monas, Jakarta, Jumat (4/10/2013).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWdhPtftaZcen8FJvbfYb9jZGR77KdMBTA58jvpW3zlzltn7gM4IxXmGd3RrrAc4QXk5PwRMvtnqPd6GTK7kMthlxQwW5mD19RoJQ25RGEPSBnASbm_3RodlfwTM9IVb6xBNGogpWUQFo/s1600/R-Han+improved_Defense+Studies.JPG

Rencananya roket ini bisa diproduksi massal pada tahun 2015. Bahkan dalam jangka panjang akan dikembangkan untuk rudal jarak jauh.

"Ini roket balistik pertama untuk pertahanan. Ke depan mengarah misil. Kita punya guidence. Pengembangan rudal sudah kesitu," sebutnya. Roket ini memiliki berat 2,5 ton dengan panjang 1 meter dan mampu menjangkau hingga jarak 15 km. Seperti diketahui selama ini Indonesia masih bergantung pada beberapa produk militer dari luar negeri seperti roket.

Helm dan Rompi Anti Peluru Buatan Indonesia Mulai di Ekspor Ke Beberapa Negara Termasuk Malaysia

http://images.detik.com/content/2013/10/04/1036/militer.jpg

Peralatan militer buatan Indonesia diminati oleh pasukan militer luar negeri. Beberapa produk perlengkapan militer seperti helm tahan peluru untuk pasukan militer juga digunakan oleh Tentara Diraja Malaysia. Produsen rompi dan helm tahan peluru, PT Saba Wijaya Persada telah mengekspor helm tahan peluru ke Malaysia. Helm tahan peluru yang diproduksi di Jelambar-Jakarta Barat ini, mulai dikirim sebanyak 3.000 pis pada tahun ini.

http://203.21.74.26/pdimage/92/1390892_bpvest.mw.jpg

"Yang dipesan ekspor helm. Untuk tentara Malaysia. Tahun ini sudah mulai sebanyak 3.000. Untuk tentara kerajaan," kata Staff PT Saba Wijaya Persada, Yuda kepada di acara pameran produk militer di lapangan silang monas Jakarta, Jumat (4/10/2013).

Selain Malaysia ada berbagai negara di Asia yang mulai melirik produk rompi dan helm tahan peluru buatan PT Saba Wijaya Persada. PT Saba Wijaya Persada sendiri merupakan mitra binaan Kementerian Pertahanan. Perusahaan ini telah memproduksi rompi dan helm tahan peluru sejak 2005. "Kalau helm keunggulan tahan peluru. Kualitasnya nggak kalah dengan Eropa. Bahan dari serat aramid. Semua TNI sudah pakai," jelasnya.

Pindad Targetkan 2015 Anoa Amphibious Siap Operasional

http://playdestiny.files.wordpress.com/2013/01/anoa-logistic.jpg

Produsen alat persenjataan PT Pindad (Persero) akan menambah koleksi produksi panser dengan mengembangkan panser jenis Anoa Amphibious yang ditargetkan dapat diluncurkan pada tahun 2015. "Pengembangan Anoa Amphibious dilakukan dengan penambahan spesifikasi, sehingga mampu menyeberang di sungai, danau, dan mendarat di laut," kata Direktur Perencanaan dan Pengembangan Pindad, Wahyu Utomo, ketika ditemui pada "Pameran Alutsista 2013", dalam rangka HUT TNI ke-68, di Silang Monas, Jakarta, Jumat.

Menurut Wahyu, pengembangan Anoa Amphibious merupakan bagian dari penguatan pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Pengembangan Anoa Amphibious memasuki uji dinamis pada tahun 2014, sehingga pada 2015 sudah bisa delivery untuk memenuhi permintaan TNI," kata Wahyu. Sementara itu, Marketing Manajer Pindad, Sena Maulana mengatakan, untuk mengembangkan Anoa Amphibious Pindad bekerjasama dengan Korea dan Italia.

"Teknologi yang dikembangkan meliputi kemampuan Anoa untuk bermanuver tidak saja di darat, tapi juga bisa bergerak dinamis menghadapi gelombang laut," ujar Sena. Panser Anoa pertamakali diproduksi pada tahun 2008, dengan mengambil nama hewan asal Pulau Sulawesi. Kenderaan militer lapis baja berbobot 14 ton ini memiliki daya jelajah 600 km dengan kecepatan hingga 90 kilometer per jam. Selain panser Anoa, Pindad juga memproduksi kendaraan taktis (rantis) Komodo hasil rancangan tahun 2011.

Rantis yang sudah dicoba ini memiliki sejumlah kemampuan seperti lincah bergerak di medan berlumpur, berpasir, jalur terjal dengan tanjakkan 31 derajat dan kemiringan 17 derajat serta kemampuan jelajah hingga 450 km. Kabarnya lagi, Anoa sudah dipesan oleh sejumlah negara. Diantaranya, Malaysia, Timor Lestr, Nepal, dan Afrika Selatan.

TNI AD Pamerkan 326 Alat Tempur di Monas

http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/pameran_tni_ad_ok_02.jpg

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat menggelar pameran alat utama sistem persenjataan di lapangan Monumen Nasional, Jakarta. Pameran ini berlangsung sejak Jumat hingga Senin, 4-7 Oktober 2013. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Budiman mengatakan pameran bertujuan mendekatkan tentara dengan masyarakat. "Pameran ini juga bentuk pertanggungjawaban kami kepada rakyat," kata Budiman dalam jumpa pers di lokasi pameran hari ini, Jumat.

Pertanggungjawaban yang Budiman maksud adalah beberapa tahun terakhir Kementerian Pertahanan dan TNI membelanjakan duit rakyat untuk memperbarui alutsista. Setidaknya sepanjang 2009-2014, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 150 triliun untuk belanja alutsista. Tahun ini, Angkatan Darat kedatangan dua unit tank Leopard 2A6 dan dua unit tank Marder buatan Jerman. Selain itu, datang juga beberapa unit panser tempur amfibi Tarantula buatan Korea Selatan.

Budiman menyebut Angkatan Darat tahun depan bakal kebanjiran alutsista baru. Sebagai contoh, Multiple Launch Rocket System Astros buatan Brazil. Roket ini mampu ditembakkan hingga jarak 100 kilometer lebih. Angkatan Darat juga bakal kedatangan Mistral atau misil yang terintegrasi dengan sistem penangkis udara. Sayang Budiman tak menyebut dari mana produk ini berasal. "Yang jelas akurasi tembakan hampir 98 persen," ujarnya.

Untuk helikopter, tahun depan Angkatan Darat bakal mendapat helikopter serang Bell 412 dan Fennec rakitan PT Dirgantara Indonesia. "Apache AH-64E tahun depan juga datang dua unit, sisanya enam unit bertahap sampai 2017."

Secara total, TNI AD memamerkan 326 peralatan tempur. Peralatan ini terdiri dari berbagai kesatuan, seperti Infantri sebanyak 99 alutsista seperti kendaraan tempur dan panser. Lalu dari Kavaleri memamerkan 28 alutsista yang sebagian besar adalah tank berbagai jenis. Arhanud juga menampilkan 27 alutsista, yang didominasi meriam dan sistem pertahanan anti serangan udara.

Ada lima helikopter juga yang dipamerkan, antara lain Bell 412 buatan Amerika Serikat tahun 2012, Bell 205 A1 buatan Amerika Serikat tahun 1972, Bolco 105 buatan Jerman tahun 1976, MI-17 buatan Rusia tahun 2010, dan MI-35 buatan Rusia tahun 2010.

Tank Leopard Absen dalam Pameran Alutsista TNI AD

http://static.liputan6.com/201309/ksad-budiman3-130911-b.jpg

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Budiman mengatakan pihaknya belum bisa menghadirkan empat tank terbaru dalam pameran alat utama sistem persenjataan di lapangan Monumen Nasional, Jakarta, Jumat, 4 Oktober 2013. Menurut dia, empat tank tersebut baru didatangkan besok. "Besok sore masuk Monas," kata Budiman di sela-sela pameran.

Menurut dia, keempat tank terbaru itu bisa dikirim seusai upacara HUT TNI ke-68 di Halim Perdanakusuma, Sabtu besok. Keempat unit tank tersebut adalah dua unit Leopard 2A4 dan dua unit Marder.

Sebagai gantinya, Angkatan Darat akan memamerkan panser serang Tarantula buatan Korea Selatan. Panser ini baru diterima TNI AD tahun ini. Panser enam roda ini punya keunggulan sendiri, yakni dilengkapi meriam 90 milimeter.

Mantan KSAD Pramono Edhi Wibowo dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ikut menjajal kendaraan tempur itu. Keduanya mencoba duduk di dalam kabin panser. Pramono mengaku puas dan kagum dengan kendaraan tempur ini. Menurut dia, Indonesia belum memiliki panser yang punya meriam berukuran besar seperti tank.

Secara total, TNI AD memamerkan 326 peralatan tempur. Peralatan ini terdiri dari berbagai kesatuan, seperti Infanteri sebanyak 99 alutsista, Kavaleri 28 alutsista, dan Arhanud menampilkan 27 alutsista. Pameran ini juga menampilkan lima helikopter. Sementara belasan panser TNI AD bergerak mengitari lapangan Monas, mengangkut pengunjung pameran.

Kamis, 03 Oktober 2013

Operasi Penerbangan di LANUD NGURAH RAI Meningkat Jelang Pelaksanaan APEC

http://static.liputan6.com/201304/un-hercules-tni-au-130414b.jpg

4 Hercules C-130, 1 Heli Superpuma, 1 Heli Puma dan 1 Heli Colibri dukungan APEC 2013 tiba di Lanud Ngurah Rai. Empat Hercules C-130 TNI AU tersebut masing – masing membawa Dukungan Ransus RI 1, satu diantaranya membawa peralatan C - MOV dan dua Hercules yang membawa personel BKO untuk dukungan APEC 2013 terdiri dari personel POM dan Paskhas sebanyak 70 orang berikut dengan peralatan dan kendaraan dukungan Pengamanan APEC 2013 tiba di Bandara Ngurah Rai selasa 2 Oktober 2013.

Perbantuan personel POM yang berasal jajaran Koopsau II dan Personel Paskhas dari Madiun tersebut di maksudkan untuk menambah perkuatan Lanud Ngurah Rai dalam pengamanan VVIP dan para delegasi peserta selama APEC 2013 di Aeorodrome Bandara Ngurah Rai.

Selain kedatangan pesawat Hercules C-130 yang membawa BKO Pam VVIP, C-MOV dan Ransus RI 1, pada hari yang sama Heli Super puma untuk Konjerat RI 1 Standby di Ngurah Rai dukungan RI 1 selama berada di Bali. TNI Angkatan Udara juga mensiagakan Heli Puma untuk dukungan SAR pesawat tempur F-16 TNI AU yang direncanakan akan tiba di bali keesokan harinya.

Dr.Connie Rahakundini : Industri Pertahanan Indonesia Memiliki Banyak Kekhasan

http://www.swatt-online.com/wp-content/uploads/2012/07/Connie-Rahakundini-Bakrie.jpg

Dr.Connie Rahakundini Bakrie, tampil sebagai nara sumber kedua pada pelaksanaan Seminar Akhir Pendidikan yang digelar oleh Perwira Siswa (Pasis) Seskoau Angkatan ke-50 di Bangsal Srutasala, Rabu (2/10). Dalam ceramahnya yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Industri Strategis Pertahanan dan Model Pengelolaan dalam rangka Mengurangi Ketergantungan Luar Negeri”, menyoroti kompleksitas permasalahan industri pertahanan nasional yang hingga kini belum mandiri.

Menurut Dr.Connie, sebagai alat pertahanan negara dalam tugasnya TNI membutuhkan dukungan alat pertahanan yang memadai. Ditambahkannya terdapat tiga pilar industri pertahanan Indonesia sebagai pendukung TNI yang dalam kenyataannya saling terkait satu sama lain. Tiga pilar tersebut adalah pertama, produsen yang dilaksanakan oleh BUMN dan BUMS sebagai penyedia alat pertahanan dalam negeri, kedua pemerintah yang mengeluarkan berbagai regulasi yang relevan dan ketiga pengguna yang meliputi TNI, Polri, instansi lain bahkan untuk keperluan ekspor. Di dalam tiga pilar terdapat juga unsur-unsur Penelitian dan Pengembangan (litbang) yang bekerja berdasarkan tugas pokok dan visi masing-masing tiga pilar tersebut.

Untuk dapat berkembang bahkan mandiri, industri pertahanan nasional memerlukan peran negara yang dapat membawanya ke arah tujuan yang dituju. Peran negara yang diharapkan adalah iklim yang jelas bagi produsen, sehingga operasional BUMN dan BUMS jelas pula arahnya ke depan. Memang, pemerintah telah membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) berdasarkan Perpres Nomor 42/2010 sebagai wujud komitmennya melakukan revitalisasi industri pertahanan nasional, namun pada kenyataannya jalan menuju kemandirian belum dapat direalisasikan. Hal ini dikarenakan antara lain oleh berbagai kekhasan dalam industri pertahanan nasional seperti teknologinya tingkat tinggi, kompleksitasnya teknologi industri pertahanan, harga pengembangan yang semakin tinggi, masalah pasar yang terbatas juga masa impas yang lama, permasalahan aliran dana, keterkaitan yang erat antara pasar komersial dan pertahanan dan lain-lainnya.

HUT TNI ke-68, Tak Semua Alutsista Dikerahkan

http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/jenderal-tni-moeldoko-_130821153934-759.JPG

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, mengatakan tak semua alat utama sistem senjata (Alutsista) TNI dikerahkan untuk memeriahkan peringatan HUT TNI Ke-68, yang dipusatkan di Lapangan Udara Halim Perdanakusumah, Jakarta.

"Pada HUT TNI kali ini, mungkin belum seperti yang diinginkan masyarakat. Beberapa pesawat tak bisa ditampilkan di sini karena ter-deploy acara KTT APEC di Bali dan pameran alutsista TNI AD. Heli TNI AD, beberapa pesawat tempur Angkatan Udara, tak bisa kita munculkan," kata Panglima TNI usai geladi bersih HUT TNI Ke-68, di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (3/10).

Namun, lanjutnya, dia yakin pada perayaan HUT TNI yang ke-69 pada tahun 2014 nanti akan diselenggarakan di Surabaya akan dikerahkan seluruh kekuatan TNI.

Pameran senjata dalam HUT TNI ke 68 di Lanud Halim Perdanakusumah meliputi tiga matra. TNI AU menampilkan sepasang jet tempur Sukhoi, dua pesawat transport C-130 Hercules, dua pesawat Boeing 737 dan dua triple gun TNI-AU.

Angkatan Darat memajang empat helikopter (2 Bell 412 dan 2 Mi 35), enam kendaraan lapis baja angkut pasukan Anoa, enam panser V-150 dan 12 pucuk meriam 57 artileri pertahanan udara. Sementara TNI AL menampilkan enam tank PT-76, enam tank angkut pasukan BTR 50 dan sepasang Howitzer 122 milimeter.

Selain pameran senjata, HUT TNI yang kali ini bertema "Profesional, militan, Solid dan Bersama Rakyat TNI Kuat" ini juga menampilkan demonstrasi seperti terbang lintas (fly pass) sepasang pesawat Cessna TNI AU , keterampilan prajurit, senam balok, halang rintang dan senam perahu karet melibatkan 600 prajurit.

Ditampilkan pula kolone senapan oleh 900 orang, demonstrasi pertempuran jarak dekat didukung 18 orang, terjun bebas (free fall) melibatkan 100 peterjun yang diangkut dua pesawat C-130 Hercules. Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan aksi aerobatik Jupiter Aerobatic Team (JAT) menggunakan enam pesawat KT-1B Wong Bee, fly pass empat pesawat Casa 212 TNI AL dan delapan heli TNI AD meliputi Mi 17, Mi 35, tiga bell 412 dan 3 unit Bo 105.