Komodo, Made In PT Pindad Indonesia

That was a name that given to PT Pindad latest 4×4 tactical vehicle.

SS2 Made In PT. Pindad Indonesia

SS2-V5 has a long barrel 252mm. compare with SS2-V1-V2= 460mm, SS2-V4=403mm and 460mm, with a shorter barrel.

Made In PT. Pindad Indonesia : APS-3 ANOA

Mesin Berkapasitas 7000 cc dan 320 tenaga kuda.

PT. Dirgantara Indonesia

Pesawat CN-295 Buatan Indonesia dan Spanyol memiliki Panjang: 24,50 meter, Tinggi: 8,66 meter, Rentang sayap: 25,81 meter.

Made In PT. PAL Indonesia

Kapal Perang jenis LPD Memiliki Kecepatan 15,4 knots, Panjang 125 m (410.10 kaki), Lebar 22 m (72.18 kaki) .

Torpedo SUT, Made In : PT. Dirgantara Indonesia

Jarak operasional: 28 km, Kecepatan/ jarak: 35 knots/24,000 yd; 23 knots/ 56,000 yd, Hulu ledak: 225 kg, kedalaman menyelam: 100 m

SS4 Made In PT Pindad Indonesia

Amunisi GPMG FN MAG 58/7,62 x 51 mm, Kaliber 7,62 mm.

Daftar Pasukan Elite Tentara Nasional Indonesia

1.Denjaka, 2.YonTaifib, 3.Kopaska, 4.Kopassus, 5. DetBravo-90.

Kapal Perang Berteknologi Anti Radar Buatan Indonesia

Panjang 63 meter, Lebar 16 meter, Bobot 219 ton, Mesin utama 4x MAN 1800 marine diesel engine nominal 1.800 PK+ 4x waterjet MJP550.

SPR-1, SPR-2, SPR-3 Made In PT Pindad Indonesia

Senjata Sniper Buatan PT. Pindad Indonesia ini diberi nama Senapan Penembak Runtuk, Mampu menembak Baja setebal 3 cm.

KFX/IFX : Pesawat Tempur Buatan Indonesia - Korsel, Berteknologi Anti Radar (Pesawat Siluman)

Status : Proses pengerjaan telah selesai sampai Tahap II, Dan saat ini proyek pengerjaan telah di Tunda Sampai Juni 2014

Helikopter Gandiwa Made In : PT. Dirgantara Indonesia

Nama GANDIWA diambil dari nama senjata milik Arjuna yang didapat dari Dewa Baruna. Persenjataan : kanon laras tunggal kaliber 30 mm tipe M230 Chain Gun, roket Hydra 70 dan CRV7 kaliber 70 mm.

Senin, 12 Agustus 2013

Mengenang Komponen F-16 Buatan Indonesia

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiq5QnIpDmHK7C6oL42XPXSLRfBro7zEB2CmEDoIwWV6MF_YB3FRVoWObRpfaLp7TfHGOu3czXMLV7-KJKX-iFpgng9E8FvNUTLB_l5x-Q4YYDYWb-yqk0CvsgxnGJSFUyEJ6VvUHr6Olg/s1600/Untitled1.jpg

Airod yang didirikan tahun 1976 ini merupakan fasilitas perawatan mesin dan depot level maintenance pesawat milik Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM). Ada satu hal yang cukup mengagetkan, perusahaan asal Malaysia ini melalui Divisi Avioniknya telah berhasil membuat komponen pesawat tempur Hawk 100/200 buatan British Aerospace.

Komponen bernama pylon wireloom ini dibuat sebagai bagian dari offset atau imbal-produksi 18 Hawk 200 dan 10 Hawk 100 yang dibeli Malaysia tahun 1991. Yang lebih penting, BAe System selaku produsen Hawk sangat puas dengan hasil kerja Airod dan menawarkan kontrak lebih lanjut.

Sebagai salah satu pemain besar dalam industri pertahanan di kawasan Asia Tenggara, tentunya memang sangat disayangkan. Dengan total pembelian hingga 40 unit Hawk 100/200 (lebih banyak dari Malaysia), namun tak diikuti dengan adanya skema offset. Entah apa alasannya. Namun terlepas dari itu ada secuil cerita menarik mengenai offset komponen pesawat tempur di Indonesia. Contoh riilnya adalah pembuatan komponen F-16. Meski saat itu yang dibeli cuma 12 biji tapi kita dapat offset hingga 35%! Sebuah angka yang bagi sebagian orang kecil tapi berhasil mencatatkan nama Indonesia sebagai produsen suku cadang pesawat tempur kelas dunia.

Rincian 6 macam komponen F-16 buatan IPTN itu yakni :

  • Lapisan luar sirip tegak 400 buah
  • Pintu roda depan 526 buah
  • Pylon senjata 675 buah
  • Pylon bahan bakar 975 buah
  • Wing flaperon 450 buah
  • Pintu akses mesin depan 450 buah

Total General Dynamics (produsen F-16 kala itu) memesan 3.476 komponen senilai 57 juta dollar (102,6 miliar). Tentang komponen buatan Indonesia ini, Charles Anderson, Vice President General Dynamics, berani mengatakan tak ragu dengan kualitas  dan standar komponen F-16 buatan kita. Bahkan saat ekspor perdana komponen ini (Desember 1988), sang pabrikan berani menambah pesanan menjadi 8 macam komponen, terdiri dari 6 komponen yang sama dengan pesanan offset plus dua komponen lainnya. Pesanan tambahan ini diluar pesanan 3.476 komponen terdahulu, dan digunakan untuk keperluan pembuatan 400 unit F-16 yang bakal diproduksi General Dynamics hingga tahun 2000.

Kemristek Peringati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEisPap0U7987Otl1WH_qFzEbYZS7YtPfOpkbo0cvL-OnEFDtknM8KtxE92sKqBIkA6Ke8Ijt-5r2ECDKvtbBRBQXTMwtkN8qrBdqW2_k5bOUKvUaPJ2leTmNx8FhpG4CgI4bUOYMe3KuM1S/s1600/N250-Gatotkaca.jpg

PADA tanggal 10 Agustus 2013 lalu, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) RI menggelar peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-18. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) menjadi sebuah solusi ditengah berbagai permasalahan yang muncul di tengah lajunya perkembangan manusia di dunia.

Tuntutan masyarakat akan kemudahan dan kecepatan dalam peningkatan produktifitas serta pelayanan memerlukan perkembangan Iptek yang inovatif sebagai solusi dalam menghadapai persoalan bangsa.

"Hakteknas ke-18 tahun ini mengusung tema "Inovasi Kemajuan Bangsa", untuk kian menegaskan peran ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu komponen penentu kemajuan bangsa," kata Humas Kemenristek RI, Munawir Razak, sebagaimana dalam siaran persnya kepada Jurnal Nasional di Jakarta, Senin (12/8).

Munawir memaparkan, 18 tahun yang lalu, tepatnya 10 Agustus 1995, merupakan tonggak sejarah peringatan Hakteknas, saat pesawat N250 Gatotkaca buatan anak bangsa yang dirintis Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia saat itu, BJ Habibie melakukan penerbangan perdana. Beberapa ciri negara maju di antaranya telah mempunyai tingkat produktifitas yang tinggi, pelayanan yang terintegrasi dan efektif, serta kepedulian akan lingkungan dan sumber daya alam.

Dalam upaya mendorong strategi percepatan pengembangan ekonomi melalui Master Plan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Kemenristek bersama komponen bangsa yang lain mendapat tugas melakukan Penguatan Kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Iptek nasional. Tujuannya, yakni menciptakan SDM yang kreatif, inovatif dan berintegritas. Meningkatkan produktifitas dan daya saing nasional, dan ketahanan nasional.

"Setelah 18 tahun berlalu sejak penerbangan awal N250, kemudian bermunculan karya-karya teknologi anak bangsa," ujar Munawir. Ia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, mendorong terciptanya produk-produk Iptek, antara lain Mobil Listrik, Converter Kit, e-KTP, e-Voting, Mesin Pewarta, Radioisotope, Ultrasonografi, Vaksin, Jarum Suntik, Mesin Pengering Gabah, Pengendali Banjir dan Teknologi Kebencanaan lainnya.

Sedangkan untuk Icon Hakteknas ke 18 tahun 2013 adalah Teknologi Hankam dan Kedirgantaraan yaitu Pesawat Udara Nir Awak (PUNA), Satelit LAPAN A2, Roket LAPAN RX 550. "Beberapa hasil karya anak bangsa tersebut dapat dilihat langsung oleh masyarakat pada rangkaian kegiatan puncak peringatan Hakteknas-18 yang akan diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pada tanggal 29 Agustus–1 September 2013," kata Munawir.

Selain pameran RITECH Expo, juga akan digelar kegiatan Rakornas Ristek 2013, berbagai penyelenggaraan workshop, kompetisi roket air, fun bike dan berbagai kegiatan menarik lainnya. Nantinya, acara puncak peringatan Hakteknas 18 di TMII tersebut akan dihadiri langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan diisi dengan penyerahan berbagai anugerah iptek kepada individu, lembaga maupun daerah yang memiliki kontribusi dalam memajukan bangsa melalui inovasi, riset dan iptek.

OPM: Penembakan Anggota PMI di Puncak Jaya Dilakukan TNI

http://img.beritasatu.com/images/medium/1372653680.jpg

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)-Organisasi Papua Merdeka (OPM) membantah telah melakukan aksi penembakan terhadap mobil dan petugas ambulans Palang Merah Indonesia (PMI) di Puncak Jaya, Papua. Mereka justru menuding pihak TNI di balik serangan tersebut. Hal itu dikatakan oleh Kepala Staf Umum TPNPN-OPM Teryanus Sotto melalui surat elektronik, Senin (12/8).

Sotto menuturkan bahwa ambulans nahas tersebut,sedianya, diterjunkan untuk menolong seorang ibu hamil di Tingginambut, pada Rabu (31/7) lalu. Ambulans ditugaskan atas perintah Kodim dan Bupati Puncak Jaya.

Namun, setibanya di Tingginambut, para petugas medis tak mendapati adanya ibu hamil. "Petugas lantas bertanya kepada masyarakat sekitar. Namun, masyarakat justru menyatakan bahwa di daerahnya tak ada ibu hamil yang membutuhkan pertolongan," kata Sotto.

Tidak lama kemudian, terjadi penembakan terhadap para petugas medis. Tembakan yang berasal tidak jauh dari pos TNI itu mengakibatkan Erik Yoman terkena peluru di alis mata, pinggang kiri dan dada. Sementara Darsen Wonda dan Kris Baransono terkena timah panas pada tangan kanan.

"Melihat rekannya tertembak, sopir ambulans langsung turun dari menyelamatkan diri ke pos TNI Puncak Senyum. Di pos itu terdapat dua anggota TNI. Namun, para anggota TNI tidak merespon permintaan tolong korban," ujar Sotto. "Jelas hal ini menunjukkan bahwa aksi penembakan itu adalah skenario TNI. Mereka yang menembak anggota PMI asal Papua," kata Sotto.

Menurut Sotto, tujuan TNI dalam aksi penembakan tersebut guna menuduh TPNPB-OPM telah melakukan tindakan kriminal dan melanggar hukum internasional tentang Palang Merah. Juga untuk merusak nama baik TNPPB-OPM di mata internasioal. Terlebih TPNPB-OPM tengah berjuang untuk kemerdekaan Papua.

Karena itu, ujar Sotto, TNI dan Bupati Puncak Jaya harus bertanggung jawab terhadap insiden penembakan tersebut. "Bupati Puncak Jaya telah memberikan legitimasi permintaan TNI untuk menjemput orang sakit, membenarkan penipuan TNI dan menjebak anggota PMI asal Papua Barat. Maka ia harus bertanggung jawab atas insiden itu," tegasnya.

"Tuduhan Polda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih kepada TPNPB-OPM sebagai pelaku penembakan melalui media lokal dan nasional adalah tidak benar. Penipuan ini untuk menutupi kesalahan anggota TNI, pelaku penembakan dari pos Puncak Senyum itu," ujarnya.

Wadansatgas Indobatt Kunjungi Pos-Pos Penjagaan di Lebanon




https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSQYUZzidUZWoGI-6AMsE9g5UktCqgZERR38XMyWx4AXeVCrYiV

Wakil Komandan Satuan Tugas (Wadansatgas) Indonesia Battalion (Indobatt) Kontingen Garuda (Konga) XXIII-G/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) Mayor Inf Pio L. Nainggolan mewakili Komandan Satgas (Dansatgas) Indobatt Letkol Inf Lucky Avianto, melaksanakan kunjungan ke pos-pos penjagaan di Lebanon, Minggu (11/8/2013).

Kunjungan ini bertujuan untuk memberikan dorongan moril kepada personel Satgas Indobatt yang pada saat merayakan Lebaran berada di pos yang menjadi tanggung jawabnya, karena kesibukannya harus berpatroli dan berjaga di pos-pos pemantauan dan perbatasan.

Kunjungan diantaranya diawali dari OP (Observation Post) dilanjutkan menuju Pos TP (Temporary Post) 37, B-78, TP-37, Panorama Point, XC-5  dan berakhir di Post M3 area Kompi Cheetah.

Enam Pesawat Tempur F-16 Meriahkan HUT Kemerdekaan RI

http://selebzone.com/wp-content/uploads/2009/09/f-16_002.jpg



Pesawat tempur F-16/Fighting Falcon saat keluar dari Shelter Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi untuk melaksanakan latihan fly pass bergabung dengan pesawat Sukhoi, 12 Agustus 2013.

Sebanyak enam pesawat tempur F-16/Fighting Falcon dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, yang akan memeriahkan peringatan HUT ke-68 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana negara tinggalkan Home Basse menuju Lanud Halim Perdanakusuma, Kamis (12/8).

Pesawat tempur F-16/Fighting Falcon tersebut akan bergabung dengan pesawat Sukhoi dari Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar untuk mengadakan latihan bersama/fly pass untuk memeriahkan HUT ke-68 Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2013 mendatang.

Keberangkatan pesawat F-16/Fighting Falcon dalam rangka latihan fly pass yang akan dilaksanakan kurang lebih satu minggu tersebut dipimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 3 Letkol Pnb Setiawan.

Minggu, 11 Agustus 2013

27 Negara Di Dunia Menggunakan Seragam Militer Produksi PT. SRITEX Indonesia

http://content.jakcity.com/cache/2012/01/29/2426.84425346.sritex-sukoharjo-450.jpg

Kebutuhan pakaian militer 27 negara dipenuhi oleh PT Sritex, Sukoharjo, Jawa Tengah, sementara 40 negara lainnya menjalin kerja sama perdagangan dengan perusahaan tekstil tersebut baik meliputi pakaian fishion dengan berbagai model, kain, dan benang.

PT Sritex yang bergerak dalam bidang tekstil mempunyai desain kain lebih dari 300 ribu desain, dan enam di antaranya yang merupakan desain pakaian militer yang telah dipatenkan di Dirjen HAKI, kata Direktur Garment PT Sritex di Solo. Sebanyak enam desain yang dipatenkan itu di antaranya jenis pakain militer Indonesia.

"Masih banyak disain kami yang belum dipatenkan dan ini akan terus dilakukan secara bergiliran sehingga hak cipta itu tidak akan dibajak oleh orang lain," katanya.

Pabrik tekstil PT Sritex di Sukoharjo itu berada di tanah seluas 150 hektare dengan karyawan mencapai total 18.000 orang. Sekitar 70 persen produksinya diekspor dan 30 persen lainnya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menyinggung mengenai ekspor, Iwan mengatakan sebagian besar di lakukan ke Amerika Serikat yang nilainya total mencapai 300 juta dolar per tahun, sementara kedua ke kawasan Eropa yang nilainya mencapai 200 juta dolar Amerika Serikat.

Negara-negara yang kebutuhan tekstil baik benang, kain, maupun pakaian militernya yang dipasok oleh PT Sritex antara lain Jerman, Inggris, Malaysia, Australia, Timor Leste, Uni Emirat Arab, Kuwait, Brunei Darussalam, Singapura, Amerika Serikat, Papua New Guinea, Selandia Baru, Tunisia, Turki, dan anggota NATO.

SA-2 : Rudal Darat Ke Udara Legendaris AURI

http://indomiliter.files.wordpress.com/2011/06/69340_1542051602938_1584410304_31249820_5681877_n.jpg

Menyandang predikat sebagai ‘Macan Asia’ dalam sisi militer, Indonesia pada era 60-an menjelma sebagai kekuatan yang menggetarkan negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Dari seabreg perlengkapan tempur modern yang diperoleh dari Uni Soviet, unsur pertahanan udara (Hanud) nyatanya juga sangat diprioritaskan oleh Ir. Soekarno, Presiden RI pertama. Sebagai unsur Hanud, mulai dari pesawat tempur, rudal dan radar, apa yang Indonesia punya saat itu adalah produk tercanggih dimasanya.

Nah, bicara rudal pun banyak versi yang dimliki TNI, dua matra yakni AURI (TNI AU) dan ALRI (TNI AL) juga mengusung rudal-rudal dari varian anti kapal, udara ke udara dan udara ke permukaan yang terbilang mampu membuat negara tetangga dan NATO/AS sempat dibuat keder saat era tersebut.

 http://indomiliter.files.wordpress.com/2011/06/sa2-aerospaceweb-org.jpg

Lebih dalam lagi di segmen rudal darat udara atau bisa disebut rudal anti serangan udara, TNI AU punya ‘kenang-kenangan’ yang amat fenomenal, ini tak lain rudal SA-2 “Guideline” (kode NATO), di negara asalnya Uni Soviet rudal ini diberi kode V-75 “Dvina”. Saking populernya, karena banyak merontokkan pesawat tempur AS, rudal yang pertama kali dibuat oleh pabrik Lavochkin OKB pada tahun 1953 juga dikenal dengan sebutan SAM (Surface to Air Missile)-75.

SA-2 terbilang rudal yang punya reputasi tempur tinggi, dengan sosoknya yang terbilang besar, yakni berat 2,3 ton, panjang 10,6 meter serta diameter 0,7 meter menjadikan SA-2 adalah sosok rudal terbesar yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Dengan bobot hingga ukuran ton, sudah pasti daya jelajah rudal ini terbilang fantastis dan memang SA-2 digolongkan segai rudal darat udara jarak jauh.

Jangkauan SA-2 efektif bisa mencapai 45 km dengan kecepatan 3,5 Mach, sebuah kecepatan yang fantastis, mengingat sejak SA-2 Indonesia belum pernah memiliki rudal darat udara dengan kecepatan diatas 3 Mach (3 kali kecepatan suara). Walau terbilang rudal kelas berat, proses peluncuran SA-2 bisa dilakukan secara cepat bila telah mengunci sasaran. Saat pertama diaktifkan yang menyala adalah engine booster selama 4 sampai 5 detik dan kemudian engine utama akan aktif selama 22 detik dengan kecepatan 3,5 Mach dengan tingkat akurasi 65 meter.

Selain unggul dalam daya jelajah dan kecepatan luncur, jangkauan ketinggian SA-2 pun mengagumkan, yakni bisa mencapai 20.000 meter. Daya hantam SA-2 pun cukup menakutkan dengan hulu ledak high explosive fragmentasi seberat 200 kg. Dengan spesifikasi diatas, jelas SA-2 jadi senjata yang mujarab untuk merontokkan pesawat jet pengintai yang kerap terbang tinggi. Ini terbukti pada 1 Mei 1960 rudal ini dapat menembak jatuh pesawat mata-mata Amerika U-2 ‘Dragon Lady” pada ketinggian 15,24 Km dan berhasil menangkap pilotnya Francis “Gary” Powers.

http://indomiliter.files.wordpress.com/2011/06/auri-sa2exrussia.png
Parade rudal SA-2 dalam sebuah defile tahun 60-an di Istora Senayan

http://indomiliter.files.wordpress.com/2011/06/gaz_exmoda.jpg
Kondisi truck Zil 131 AURI, pembawa rudal SA-2

http://jasmeerah.files.wordpress.com/2011/02/sisa-sisa-sa-2-tni-au-auri.jpg
Sisa-sisa SA-2 TNI-AU (AURI)

Selain itu ada peristiwa lain yang mencatat keberhasilan rudal ini dari berbagai variannya adalah pada insiden U-2 Taiwan ditembak jatuh oleh tentara RRC di atas Narching. Lalu Pada bulan Oktober 1962, U-2 Amerika hilang ditembak oleh tentara Kuba di atas pangkalan angkatan laut Banes yang kemudian memicu krisis rudal Cuba. 

Berikutnya adalah di ajang Vietnam dengan korban pesawat tempur F-4C Phantom pada bulan Juli di tahun yang sama. Tak heran memang, SA-2 dihadirkan Uni Soviet sebagai kegeraman atas kehadiran pesawat intai U-2 yang kerap masuk ke wilayah Soviet. Dalam operasionalnya, SA-2 digunakan pada tahun 1957 oleh resimen PVO-Strany dan ditempatkan pada suatu daerah dekat kota Sverdiovsk.

Walau tampil menakutkan bagi armada tempur NATO, SA-2 tidak pas untuk menyergap pesawat yang terbang dengan ketinggian rendah yang bermanuver tinggi. SA-2 kodratnya adalah rudal untuk menghantam target pada ketinggian menengah dan tinggi yang bermanuver rendah seperti pesawat pembom dan pesawat mata-mata. Dalam bobot yang besar, SA-2 bukan rudal yang bersifat mobile, platform peluncurannya menggunakan ground mounted. Sedangkan untuk pengiriman rudal menggunakan moda truk.

SA-2 di Indonesia
Kedatangan SA-2 di Bumi Pertiwi tak lepas dari kebutuhan pada saat operasi Trikora. Dalam beberapa literatur diketahui TNI AU mulai mengirimkan teknisi ke Uni Soviet untuk dilatih mengoperasika rudal ini pada tahun 1960. Setiap angkatan siswa yang belajar rudal tersebut dinamakan Naya. 

http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRH5Ie6qaJ6fyz2UqD_4V5QP4kMYi7pj2Gwoo8WDBOw0O_N-P3Q

Sesuai dengan petunjuk dari Mabes AURI bahwa pembelian itu bersifat dadakan, sehingga tim TNI AU juga tidak berlama-lama di negara tirai besi. Dalam kunjungan sekitar sebulan itu dibicarakan segala sesuatu mulai dari jumlah yang akan dibeli, bagaimana pengirimannya, bagaimana dan dimana pendidikannya hingga garansi lainnya yang mesti tertera di dalam kontrak.Sementara program pendidikan awak dan teknisi berjalan, di Tanah Air dilakukan persiapan, mulai dari pembangunan hanggar, shelter dan mess. Pada tahun 1962, ada seratus personel yang direkrut dari bintara-bintara yang bertugas di satuan-satuan radar AURI, untuk belajar sistem rudal. Pendidikan radar rudal dilaksanakan di Polandia. Di sana pendidikan khusus bagi calon operator radar di skadron rudal di laksanakan.

Kedatangan SAM-75 mewujudkan sebuah sistem pertahanan udara yang canggih kala itu. Ditambah lagi, puluhan pesawat tempur dan artileri-artileri pertahanan udara telah dimiliki AURI. SAM yang baru diproduksi 1956 dan ditempatkan dalam skala besar di beberapa titik di Uni Soviet pada 1958, tak pelak lagi menjadi pergunjingan sehebat Tu-16 dan MiG-21 yang telah hadir lebih dulu. Bahkan pada tahun-tahun itu, hanya negara Pakta Warsawa yang diijinkan menggelar alutsista tersebut. Maka sangat mencurigakan bila Indonesia yang jauh di seberang lautan, tiba-tiba berhasil mendapatkan persenjataan tersebut.SA-2 Sang Perisai Ibukota

Bila terjadi insiden pertempuran yang melibatkan operasi udara, sangat wajar bila target utama yang disasar adalah Ibukota RI, Jakarta. Dan SA-2 pun dihadirkan tak lain untuk mengamankan wilayah udara di beberapa instalasi strategis, termasuk Jakarta.

Dengan Skep Men/Pangau Nomor 53 Tahun 1963 tanggal 12 September 1963, dalam rangka mempertahankan wilayah kedaulatan udara nasional, dilakukan pembagian unsur-unsur rudal Hanud dalam pelaksanaan operasi, berada di bawah naungan Wing Pertahanan Udara (WPU) 100, membawahi 3 skadron peluncur dan 1 skadron teknik peluru kendali Yaitu :

1. Skadron 101 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 (di Cilodong)
2. Skadron 102 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 (di Tangerang)
3. Skadron 103 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 (di Cilincing)
4. Skadron Teknik 104 Penyiap Peluru Kendali (di Pondok Gede).

Tugas dari pada WPU 100 Peluru Kendali, pertama adalah mengatur, mengkoordinasikan dan memimpin langsung kegiatan-kegiatan dalam rangka pertahanan udara yang meliputi usaha penghancuran dengan peluru kendali terhadap sasaran-sasaran musuh/lawan, baik didalam maupun di luar wilayah Republik Indonesia. Kedua adalah mengatur, mengkoordinasikan dan mengawasi latihan yang membawa semua kesatuan yang dibawahnya dalam keadaan siaga.

http://indomiliter.files.wordpress.com/2011/06/sa-2_guideline_towed_by_a_zil-131_truck-wikimedia-org.jpeg

WPU 100 Peluru Kendali berpangkalan di Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdanakusuma. Rencananya juga akan ditempatkan di Bekasi dan Surabaya, namun perangnya (Trikora) urung. Surabaya pertimbangannya karena di sana pusat Angkatan Laut. Kalau tiga skadron pertama merupakan skadron operasional, maka Skadron 104 merupakan skadron penyiap (Satpen) yang bertanggungjawab menyiapkan rudal-rudal yang akan ditempatkan di ketiga skadron operasional.

Nyaris Terjadi Insiden
Selama kampanye Trikora, SA-2 disiapkan membentengi Jakarta, tak banyak cerita seputar masa genting itu, mengingat pada 1962 Belanda dan Indonesia sepakat menyelesaikan pertikaian di meja runding. Namun satu peristiwa pantas disimak dengan keberadaan SA-2 adalah pada suatu saat radar rudal menangkap adanya target dalam jarak tembaknya.

Seperti biasa, anggota Skadron Peluncur 102 bersiaga seperti hari-hari sebelumnya. Namun, tiba-tiba keluar perintah yang menegangkan, bahwa sebuah pesawat intai strategis U-2 Dragon Lady melintas di Teluk Jakarta. Kejadian itu segera dilaporkan ke Panglima Kohanud. Oleh panglima diteruskan kepada Presiden lewat jalur ‘telepon merah’ untuk menunggu perintah selanjutnya. Sementara operator radar sudah mengunci posisi U-2. Bisa dibayangkan bila Bung Karno saat itu ada di tempat ketika telepon berdering dari Panglima Kohanud, tidak seorang pun bisa membayangkan bagaimana perang yang akan terjadi kemudian. Namun saat itu, RI-1 sedang tidak ada di tempat dan target kemudian melarikan diri. Menurut sumber dari Wikipedia, hingga saat ini rudal SA-2 sudah diproduksi sekitar 4600 unit dalam berbagai varian. Sebagian besar penggunanya jelas para negara-negara sahabat Uni Soviet/Rusia. Di lingkungan ASEAN, tercatat hanya Vietnam yang juga pernah mengoperasikan rudal ini. 

http://buletininfo.com/?com=news&task=banneritem&view=raw&id=22474
S-300

Sebagai rudal yang dikendalikan lewat gelombang radio, SA-2 rawan menghadapi aksi jamming, untuk itu pihak Rusia berhenti menggunakan rudal ini pada tahun 1980, dan kini mengadopsi rudal anti serangan udara yang superior, yakni SA-10/SA-12, atau juga dikenal dengan subutan keluarga rudal S-300.

Spesifikasi SA-2
 http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/32/SA-2_Guideline.JPG
Pabrik : Lavochkin OKB
Berat : 2.300 kg
Panjang : 10,6 meter
Diameter : 0,7 meter
Penggerak : Solid fuel booster dan liquid fuel upper stage operational
Hulu ledak : 200 kg
Daya jangkau : 45 km
Batas ketinggian: 20.000 meter
Kecepatan : 3,5 Mach
Pengendali : radio

Jumat, 09 Agustus 2013

Satgas INDO FPC Melaksanakan Guard Of Honour

http://www.tni.mil.id/mod/news/images/normal/e54a228288baf4cab8cb430526aee53f.jpg

Guard of Honour (GoH  adalah kegiatan protokoler UNIFIL untuk penyambutan  tamu kehormatan dari kontingen negara yang tergabung dalam misi perdamaian di Libanon maupun dari pihak PBB sendiri yang berasal dari HQ di New York atau bila kita menyebutnya jajar kehormatan.  Satgas Indo FPC XXVI E-2 kembali mendapatkan kepercayaan untuk  pelaksanaan GoH menyambut tamu kehormatan UNIFIL yaitu Kepala Staf Angkatan Darat Malaysia Jendral Zulkifeli Muh Zain bertempat di gedung Head of Mission ( HoM ), Naqoura, Selasa (6/8).

Pasimin Satgas Indo FPC, Kapten Inf Yanuar mengirimkan 3 orang personil dibawah pimpinan Sertu Setiaji beserta Praka Fahril dengan Praka Wahyono untuk bergabung dengan kontingen Srilangka, Ghana, Tanzania  serta Malaysia. Ketiga personil tersebut  sebelumnya telah dilatih dengan materi PBB  (Peraturan Baris Berbaris ) dalam bahasa Inggris dengan tujuan personel tidak melakukan kesalahan dalam pelaksanaan nantinya.

Setibanya Jenderal berbintang 4 Malaysia ini di gedung HoM langsung diterima oleh protokoler Force Commander (FC) Mayor Park kemudian beliau menerima penghormatan dari pasukan Guard of Honour. Kepala Staf Angkatan Darat Malaysia langsung bertemu Force Commander Mayjend Paolo Serra beserta staf kurang lebih 1 jam. Kegiatan ini berjalan dengan lancar serta mendapatkan apresiasi ucapan terimakasih yang disampaikan melalui protokol FC Diakhir kegiatan seluruh personil yang terlibat melaksanakan foto bersama di tugu Cenotaph.

Rusia Musnahkan 75% Stok Senjata Kimia

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEii4kAOERxPckUiLIJtEfX1JPgWKBOR0mZEznkX8d5DuIaPcMwH6alIZgiyo3n0X0a6waUTHFCID3ooRr3aiAiMIvgvFp5i-b8qkpUNj2Er-Sr1Ib0Ey3g1Uh2uyUxlP2BnC-FgODddC7M/s1600/senjata-kimia-rusia.jpg

Rusia memusnahkan lebih dari 30 ribu metrik ton senjata kimia, atau sekitar 76 persen dari total stok senjata kimia yang dimiliki Rusia, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia, Denis Manturov, mengatakan kepada RIA Novosti pada hari Kamis, 8 Agustus 2013.

Rusia merupakan negara yang memiliki senjata kimia terbanyak dan Rusia telah banyak memusnahkannya sejak diberlakukannya Konvensi Senjata Kimia pada tahun 1997, Manturov mengatakan saat mengunjungi fasilitas pembuangan senjata kimia di wilayah Bryansk, Rusia, yang berbatasan dengan Ukraina dan Belarus.

Sudah ada lebih dari 500 inspeksi atas stok senjata kimia Rusia sejak konvensi mulai diberlakukan, pejabat tersebut menambahkan. Tahun lalu, Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Georgy Kalamov mengatakan bahwa Rusia berencana untuk memusnahkan semua senjata kimia pada tahun 2015.

Senapan Serbu Amfibi Terbaru Buatan Rusia

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPxrsIPMcYX23Xqx0sWA5b3ihA9XQs6KzIonesNiZtMzhPBjmYJlQ43wgFIDVyrYA155p4UK9ASf9vEjSsDAOnEcD5joTNIx6CN52BucYE3ajc0pRrg_cMUVLIld_SX-GoEZFvBZD7TSk/s1600/senapan-serbu-amfibi-ADS(3).jpg


ADS adalah senapan serbu pertama di dunia yang mampu ditembakkan dengan baik di udara dan di dalam air. Senapan serbu ini terbilang memiliki kemampuan yang sama baiknya dengan senapan Kalashnikov model terbaru, namun ukurannya sedikit lebih kecil. Pada tahun 2007, pabrik senjata yang berbasis di Tula, Rusia, membuat senapan serbu amfibi, hasil dari penelitian dan pengembangan selama hampir 6 dekade. Proses pembuatan senapan amfibi ini telah memakan waktu yang lama.

Kembal dulu ke sejarah senapan amfibi, upaya untuk menciptakan senapan bagi personel tempur di dalam air sebenarnya sudah dimulai ketika angkatan-angkatan laut di dunia kala itu mulai menyebarkan personel saboteurs(penyabot) dalam air. Dengan kata lain ini terjadi saat dan selama Perang Dunia II. Namun hanya Uni Soviet yang berhasil menciptakan senapan otomatis dan pistol yang mampu ditembakkan dari dalam air.

 http://img11.nnm.me/1/a/6/d/1/b1e4467ad34f9b0297873a2e13d_prev.jpg

Setelah setengah abad kemudian, muncullah pistol SPP-1 4,5mm dan senapan serbu APS 5,6 mm dan mulai digunakan oleh pasukan pengintai khusus Angkatan Laut Uni Soviet. Senjata tersebut cukup efektif di bawah air, meskipun tidak untuk di darat. Tentu saja dengan kehadiran senjata ini tentara Uni Soviet menjadi mudah untuk memukul mundur personel musuh di dalam air, meskipun efektif hanya pada jarak dekat.

Kelemahannya, senjata-senjata ini tidak akurat untuk jarak 164 meter atau lebih, dan daya tahan senjata-senjata ini pun cepat sekali menurun. Bayangkan, usia pakai senapan ini hanya 180 kali tembakan saja (ditembakkan di udara). Untuk melakukan misinya, setiap penyelam tempur Rusia harus membawa 4 senjata sekaligus, dua senjata bahwa air APS dan SPP-1 dan dua senjata konvensional yaitu senapan serbu Kalashnikov dan pistol Makarov. Untuk saat ini, entah apakah karena memang belum mampu atau tidak mau, belum ada negara di dunia ini yang berhasil mereplika/membangun kembali teknologi senjata otomatis bawah air Rusia tersebut. 


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgQfoMfe971ChTS0nsAyl-uL333m5U3Is_EkStOVLerBchazMILofvpKNqn0gMIMlF_xkXaaRSe3De_Huu2hkkJzyovyVR5QP2Pg9gb28hokwOaxG2pJ1qAiKg1cgZE_HitzSp8ZPFuZ8/s1600/senapan-serbu-amfibi-ADS(4).jpg


Senapan amfibi semacam ini jelas akan memberikan banyak keuntungan, namun rasanya akan sulit, karena sangat sulit untuk menciptakan senjata yang bisa menembak sama baiknya di dua alam yang berbeda. Namun, Pabrik senjata di Tula, Rusia, ini telah berhasil mencapai tujuan yang dianggap mustahil ini.

Senapan serbu amfibi ADSIde dan desain awalnya dirancang oleh desainer senjata kecil terkemuka, Vasily Gryazev. Kemudian, senapan serbu ini dikembangkan lagi oleh rekan-rekan dan mahasiswanya yang bekerja di Pusat Desain dan Biro Penelitian Senjata Olahraga dan Berburu Rusia. Biro ini merupakan bagian dari Biro Desain Instrumen KBP, yang terkenal dengan peluru kendali dan senjata rapid-fire-nya. 

http://army-news.ru/images_stati/avtomat_ADS.jpg

ADS memiliki cartridge air yang unik, berukuran sama dengan amunisi standar senapan serbu. Tujuan pengembangannya tentu saja agar senapan ini mampu beroperasi di dua lingkungan. Amunisinya menggunakan 5,45 mm, dikenal dengan singkatan ADS ((Avtomat Dual-medium Special), dan diselesaikan pengembangannya di Tula pada tahun 2007. Sengaja senapan ini tidak dinamai dengan nama desainer individu seperti halnya Kalashnikov dan Makarov, karena senjata baru ini merupakan hasil pengembangan bersama.

Di bawah air, ADS akan menembakkan amunisi 5,45x39mm, dan di udara (luar air) akan menggunakan cartridge biasa dari kaliber yang sama. ADS juga dilengkapi dengan peluncur granat di bawah laras yang melontarkan granat VOG-25 dan VOG-25P 40mm. Senapan ini juga bisa dilengkapi dengan berbagai peredam taktis dan sight (teleskop).  Senapan serbu ini memiliki fitur yang lazim digunakan di persenjataan Rusia. Pengembang ADS juga berhasil mengurangi ukurannya secara substansial, disamping tetap mempertahakan panjang larasnya. ADS tidak menggunakan popor konvensional, melainkan popor sandar pada bahu dengan bagian yang disebut backplate. 

http://img11.nnm.me/9/d/b/7/d/f25ec844676e42fed8fd25f8f7b.jpg

ADS sebagian besar dibuat dengan menggunakan material komposit, sehingga akan menguragi beratnya sekaligus untuk meningkatkan daya tahan terhadap korosi. Regulator gas juga ditambahkan ke dalama sistem gas, untuk memudahkan peralihan dari mode tembak di dalam air ke mode biasa atau sebaliknya.

Senapan serbu ADS ini dianggap sebagai desain revolusioner. ADS memang dikembangkan untuk personel tempur bawah air, namun dengan desainnya yang unik, menjadikan senapan ini bisa digunakan secara universal artinya tidak hanya untuk pasukan bawah air saja tetapi juga bisa digunakan oleh pasukan khusus, marinir dan angkatan darat. Senapan serbu ADS ini telah diuji coba penuh dan banyak menerima reaksi positif dari berbagai kalangan. Kita tunggu saja apakah senapan ini nantinya bisa masuk ke Angkatan Bersenjata Rusia atau tidak.